NILAI
Cinta Tuhan, Rendah Hati, Jujur dan Rajin
JABAR 3B
Bersatu - Berhasil - Berdampak

Misi Kita Bersama

               Inkarnasi, pemenuh janji dari keturunan perempuan dalam manusia Yesus merupakan titik awal penggenapan misi penyelamatan. Tetapi Natal bukan satu-satunya pilar penggenap janji misi. Dalam kredo Kristen, puncak penggenap Misi Penyelamatan ada pada peristiwa Salib, ketika Yesus disiksa, disalib, dan mati. Ia bangkit, naik ke surga, dan akan datang lagi sebagai hakim. Namun demikian kita tidak bisa menafiskan bahwa bagian penting dari Misi Penyelamatan hanya Salib. Karena misi adalah sebuah proses maka Natal, Salib, Kebangkitan, Kenaikan, Kedatangan adalah sebuah paket kesatuan sebagai inti dan berita Keselamatan. Sebegitu pentingnya Misi Penyelamatan maka investasi yang paling terbesar adalah Allah sendiri. Jika Allah menanamkan diri-Nya menjadi modal tunggal, melebihi surga dan kekayaan didunia, maka tidaklah berlebihan kita harus ber-Misi.

Membangkitkan Kehidupan

                Misi bagi Brother Andrew diibaratkan sebagai proses melahirkan anak, proses lahirnya kehidupan baru di dunia ini. Melahirkan adalah sebuah unsur penting untuk mempertahankan generasi, mempertahankan tradisi, dan mempertahankan eksistensi suku, agama. Ketika Yesus memberikan mandat Misi, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman, “ ada tuntutan reproduksi keselamatan di dalamnya. Mandat keselamatan berhubungan erat dengan siklus pemuridan, ini menjadi mata rantai kehidupan yang harus berjalan normal, sistematis, diagendakan dengan serius dan baik. Berhentinya misi dalam gereja dan dunia ini, itu berarti mematikan sistem reproduksi petobat baru, bukan hanya itu, jika itu berhubungan dengan gereja atau sebuah sinodal, bisa berdampak akut; berhentinya eksistensi gereja dan sinodal itu. Artinya sebuah gereja atau sinodal yang serius dengan misi maka eksistensinya akan bertahan dan berkembang. Diberi tugas di bidang misi merupakan sebuah tantangan berat bagi kami, karena ini menyangkut sebuah kehidupan, perkembangan, dan eksistensi Sinodal GSJA Ja-Bar. Dalam kerangka misi, maka tugas kami bukan bertitik pada penginjilan pribadi, tetapi bagaimana membuka gereja baru. Cara berpikir yang bersifat dikotomi, harus juga dijawab tetapi tidak boleh menimbulkan sifat skpetisme. Mengapa harus membuka gereja baru, kalau gereja yang sudah dirintis tenyata tutup? Pemikiran dikotomi ini tidak harus menghentikan program misi, tetapi misi harus lebih konkret memberi jawaban atas pergumulan. Fokus pada gereja yang telah dirintis dan tidak membuka gereja baru, akan berdampak buruk, jumlah yang minim dan pasti kalah bersaing nantinya. Fokus pada pembukaan gereja baru, sementara gereja yang telah dibuka berada dalam situasi ‘hidup segan mati tak hendak,’ juga mengundang bahaya. Karena ini merupakan kerja keras tanpa hasil, buang energi, waktu, biaya, dan meletihkan.

                Sadar tugas besar dan berat maka mustahil masalah kehidupan dan eksistensi sinodal GSJA Ja-Bar hanya bisa dijawab oleh unsur Departemen Misi Ja-Bar, semua elemen PI dan Gereja GSJA, penggiat theologi dan Sekolah Theologi di Ja-Bar harus terlibat aktif untuk memikirkannya dengan serius. Mari kita duduk bersama, melihat kelemahan dan kegagalan, bukan untuk menghakimi tetapi mencari solusi bersama supaya sistem reproduksi gereja melahirkan gereja bisa berjalan normal dan sehat.

Membangkitkan Team Work

                Perintah misi diberikan kepada semua pengikut Yesus, itu artinya misi dijalankan bukan dengan berjalan sendiri-sendiri. Kisah Rasul mencatat bahwa pelayanan misi tidak dijalankan perorangan, tetapi bersama-sama (saya menyebut: dilakukan secara team work). Petrus tidak pernah sendiri untuk bermisi, selalu ada rekan lainnya. Bagaimana dengan Paulus, seorang misi tulen dan pembangun persekutuan orang percaya (Baca: gereja) di banyak benua dan wilayah. Paulus tidak pernah bermisi sendiri, selalu ada teman yang mengikuti atau menjadi bagian team work-nya. Itu sebabnya Paulus bisa memiliki tingkat kestabilan dalam visi dan misi, ia tetap kuat walau diterjang dengan tantangan berat, sekelas aniaya, penjara, bahkan serangan. Karena ia berkerja dengan tim. Bukan hanya itu, bagaimana Paulus bisa pergi ke beberapa daerah, bukan hanya karena ia bisa membuat tenda dan mencukupi kebutuhan pelayanannya.

                Ingat, Paulus diutus oleh gereja Yerusalem, Paulus bagian dari tim gereja Yerusalem. Paulus mendapat penumpangan tangan dari pemimpin gereja Yerusalem, Paulus mendapat dukungan dana juga dari gereja Yerusalem. Paulus memberikan laporan ke gereja Yerusalem tentang perkembangan misi yang dia lakukan. Ada waktu ia pulang ke Yerusalem menyaksikan gereja-gereja yang sudah terbangun, memotivasi orang percaya untuk mendukung gerakan misi lewat dana. Mohon maaf, jika saya salah. Banyak dana telah di-gelontor-kan untuk pembiayaan misi (membuka gereja baru) baik di Jawa, luar Jawa oleh sinodal GSJA. Hasilnya? Memang sangat ironis tingkat keberhasilannya. Saya tidak tahu apa yang menjadi penyebab kegagalannya, karena memang tidak ada data yang konkret dan benar, tapi saya mengamati selama saya menjadi perintis, tidak adanya team work setiap melakukan  pembukaan gereja baru. Perintis berjalan sendiri, menangani sendiri, menghadapi masalah sendiri, bersaing dengan sinodal yang kuat sendiri, akhirnya kalah dan menyerah. Jika ada yang masih bertahan dalam perintisan dengan segudang masalah yang berat, itu semata hanya kasih karunia Tuhan.

                Maka kita harus mengubah pola dan cara untuk membuka gereja baru, semua unsur dalam sinodal GSJA harus terlibat menjadi bagian team work untuk mensukseskan lahirnya gereja baru yang sehat dalam segala aspek. Tentu ini PR yang tidak bisa dikerjakan dengan cepat. Kita harus memikirkan banyak hal, bagaimana peran BPW dengan gereja yang berada di wilayahnya, bagaimana peran hamba Tuhan yang secara empiris kuat dan mumpuni dalam mendampingi perintis dan jemaat  gereja baru, bagaimana gereja yang telah mapan secara keuangan untuk tidak menjadi egois dan memperbesar kerajaan sendiri, rela dan senang menjadi sponsor hingga gereja baru bertumbuh besar. Bagaimana gereja-gereja besar dan hamba Tuhan bisa mementori. Banyak PR yang harus dikerjakan bersama. Mari kita terbuka untuk menjadi bagian dari team work dalam proses pembukaan gereja baru di BPD Ja-bar dan sinodal GSJA.

Membangun Pusat Pelatihan Khusus Untuk Membuka Gereja Baru

                Misi ternyata bukan hanya berbicara penginjilan pribadi,  misi ternyata menurut Matius 28 berhubungan erat dengan pemuridan. Pemuridan mungkin bisa dipahami sebagai sebuah sekolah, dimana anak belajar tentang ilmu dan praktek nyata. Bagi Yesus, keberhasilan sebuah misi ditentukan dari ruang pemuridan, sekolah yang melatih orang-orang yang bukan hanya cerdas dan pintar berwawasan pengetahuan tetapi juga terampil mendaratkan pengetahuan menjadi fakta konkret. Perlu dipikirkan oleh berbagai pihak, bukan hanya Departemen Misi, bagaimana mempersiapkan para perintis yang siap untuk membuka gereja baru. Diharapkan perintis yang akan membuka gereja  adalah orang-orang yang sangat siap lahir batin, siap dan mumpuni dengan strategi, pengetahuan, kemampuan komunikasi dll. Maka kebutuhan sekolah pelatihan khusus buat para perintis perlu dipikirkan. Tugas ini lebih tepat harus dipercayakan pada penggiat akademik di kampus, termasuk pelaku Misi baik daerah, nasional, maupun internasional yang memiliki segudang empiris dalam membuka gereja baru.

                Saya tidak bisa membayangkan ledakan dan hasil luar biasa jika semua perintis yang akan membuka gereja baru adalah orang-orang yang telah sangat siap sedia dalam segala disiplin ilmu, ketrampilan. Pusat pelatihan ini menjadi tempat strategis melengkapi para perintis sehingga bisa menjadi pembuka gereja baru yang sukses. Sepenggal kisah dari beberapa merk Perusahaan Telepon Genggam yang tidak pernah melatih diri untuk selalu baru dan up grade diri, akhirnya terjungkal dan kalah bersaing. Jangan sampai itu terjadi pada para perintis di GSJA.  Mari di kolom Misi ini kita semua juga ikut memikirkan bagaimana pembukaan gereja baru bisa menghasilkan perintis hebat, gereja baru yang bertumbuh dan sehat. Ini waktu berbenah diri, ini waktu up grade diri. ( YS )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *