NILAI
Cinta Tuhan, Rendah Hati, Jujur dan Rajin
JABAR 3B
Bersatu - Berhasil - Berdampak

Biblical Mentoring

Dalam  tradisi Keltic di Irlandia, ada yang dikenal dengan istilah anamchara, yang berarti “sahabat jiwa.” Seorang sahabat jiwa adalah seorang yang memberikan bimbingan, dukungan, dan panduan kepada sahabatnya sementara mereka menempuh perjalanan rohani. Sahabat jiwa adalah sahabat yang sangat dekat, yang bersedia mendampingi kita dan dengan tangannya merangkul bahu kita, sambil mengatakan kebenaran. Pementoran bagaikan “sahabat jiwa” di dalam pelayan. Oleh sebab itu, pementoran di GSJA Jawa Barat harus didorong dan diciptakan dengan segaja, agar GSJA di Jawa Barat dapat mencapai visi Allah. Pementoran harus dibangun di atas visi yang benar, yaitu membentuk kita semakin serupa dengan Yesus Kristus dan membuat kita semakin efektif untuk memperluas kerajaan-Nya. Dudley Daniel mengatakan bahwa, “Tuhan kita adalah Bapa yang memiliki tujuan. Sekalipun Dia mengasihi dan peduli dengan kebutuhan kita, tetapi Dia tidak hanya sekedar peduli dan memenuhi kebutuhan kita. Dia menginginkan kita semakin serupa dengan Yesus dan membuat kita semakin efektif dalam kerajaan-Nya.”

Pementoran yang Tidak Alkitabiah

  1. Seorang mentor berpikir bahwa anak-anak rohaninya berhutang segala sesuatu kepada mereka (2 Korintus 12:14-16).  Ketika seorang mentor berhasil membawa anak-anak rohaninya mencapai visi Allah, dia tidak boleh menuntut perlakuan istimewa. Inilah yang dilakukan oleh Rasul Paulus dalam 2 Korintus 12:14-16, Paulus memiliki hak untuk meminta, tetapi dia tidak akan menuntut apa-apa. Para mentor harus berhati-hati agar anak-anak rohani Anda tidak merasa berhutang segala sesuatu kepada Anda!
  2. Seorang mentor memposisikan dirinya sebagai “Tuhan” dan memaksakan kehendaknya. Begitu juga, seorang mentee tidak boleh mempertuhankan seorang mentor. Daripada dipertuhankan dalam setiap keputusan, seorang mentor lebih baik memberikan kebebasan untuk anak-anak rohaninya mengembangkan dan mengekspresikan talenta mereka. Mentor yang baik menolong mereka untuk menemukan cara agar Tuhan dapat mengembangkan pribadi mereka tanpa mendiktekan apa yang harus mereka lakukan.  
  3. Seorang mentor menganggap bahwa dia adalah seorang yang invincible atau invulnerable (tidak dapat dikalahkan). Paulus mengatakan dalam 2 Korintus 12:9 kepada jemaat Korintus, bahwa justru dalam kelemahanlah kuasa Tuhan di dalam dirinya menjadi sempurna. Paulus tidak menyembunyikan kelemahannya, karena ingin dianggap kuat dan tidak dapat dikalahkan. Tetapi dengan terbuka, dia memberitahukan keadaannya agar Tuhan yang dimuliakan atas hidupnya.
  4. Seorang mentor bersikap mempermudah segala sesuatu bagi anak-anak rohaninya. Dalam 2 Raja-raja 2:2-10, kita melihat bahwa Elia tidak mempermudah Elisa untuk mendapatkan apa yang dirindukannya. Dalam mentoring, kita tidak perlu secara sengaja menciptakan situasi yang sulit bagi anak-anak rohani kita. Namun kita juga tidak perlu selalu menjadi “pahlawan” bagi mereka untuk mengeluarkan mereka dari semua situasi yang sulit. Kita harus menolong mereka untuk memahami bahwa situasi-situasi itu akan menolong mereka untuk bertumbuh dan berbuah lebat bagi Tuhan.

Pementoran yang Alkitabiah

  1. Mentor yang baik akan mengajarkan kepada anak-anak rohaninya bahwa mereka harus terbuka terhadap kelemahan dan kegagalan. Kelemahan dan kegagalan bukan untuk disembunyikan, sehingga memberi kesempatan kepada iblis untuk menghancurkan kehidupan mereka. Kita harus meneladani Tuhan kita, Yesus Kristus, Dia bukan saja memberikan kesempatan kepada murid-murid-Nya untuk menampakkan sisi terbaik dalam hidup mereka, tapi juga sisi kelemahan mereka (Markus 10:35-45; 14:1-7; Lukas 22:24-34). Ketika mereka sedang membicarakan tentang siapa yang paling besar, maka Tuhan Yesus mengangkat topik itu. Dia memberitahukan kepada mereka tentang hati mereka dan mengajarkan kepada mereka tentang kehambaan. Mentoring yang baik mengajarkan anak-anak rohani mereka untuk bergantung kepada Tuhan dan bukan kepada mentor atau kemampuan mereka sendiri. (1 Kor. 2:5). Mentoring yang baik berarti mengajarkan anak-anak rohaninya untuk menjadi pembuat rencana dan  keputusan jangka panjang walaupun mengalami kegagalan. Ajarkan mereka untuk berhati-hati dalam membuat keputusan, mau belajar menunggu dan mempertimbangkan setiap aspek keputusan.
  2. Mentor yang baik harus hadir di tengah-tengah kehidupan anak-anak rohaninya. Hal ini penting supaya anak-anak rohani kita harus tahu bahwa seorang mentor bukanlah seorang guru yang mengajar dan mengatur hidup mereka, melainkan seorang sahabat yang menuntun mereka. Seorang mentor perlu memastikan agar mereka tidak hanya memberikan arahan tetapi memberikan waktu untuk saling mengenal. Tuhan Yesus menyingkir dari orang banyak untuk memberikan waktu khusus kepada murid-murid-Nya agar dapat mengenal-Nya (Markus 9:30-33). Dia memberi waktu untuk menjawab pertanyaan mereka, Dia membuat mereka aman dalam kasih-Nya dan dengan penerimaan-Nya.
  3. Mentor yang baik harus menjadi orang tua bagi anak-anak rohaninya. Seorang ibu memberikan kenyamanan dan perawatan, seorang ayah memberikan identitas yang benar dan pengertian terhadap tantangan dan petualangan dalam kehidupan anak-anaknya.
  4. Mentor yang baik adalah seorang yang sabar dalam membuat rencana bagi anak-anak rohaninya. Kita melihat contoh yang baik dari Tuhan Yesus. Dia sabar terhadap murid-murid-Nya. Dia memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan apa yang diajarkan-Nya (Luk. 9:1-7). Dia sabar ketika mereka gagal (Mark. 8:14-21). Dia sabar ketika murid-murid-Nya memperlihatkan emosinya (Mark. 9:33-41). Kesabaran ini diperlukan untuk dapat membawa anak-anak rohani kita dalam rencana Allah untuk seluruh kehidupan mereka.
  5. Mentor yang baik harus mempersiapkan kehidupan rohani anak-anak rohaninya. Mentor harus mengajarkan anak-anak rohani mereka agar dapat menjaga kekudusan hidup. Ketika anak-anak rohani kita, mempersiapkan rencana untuk kehidupan dan pelayanan mereka, kita perlu menolong mereka untuk mengenal talenta mereka, agar mereka memperoleh kepercayaan diri untuk melakukan apa yang dapat mereka lakukan dan mencapai keberhasilan dalam kemampuan mereka.
  6. Mentor yang baik mengarahkan anak-anak rohani mereka pada kepercayaan akan sumber Tuhan yang tidak terbatas. Para mentor harus mengatakan bahwa Tuhan menyediakan semua kebutuhan mereka, baik kebutuhan fisik, emosi, relasi dan rohani (Matius 7:11).
  7. Mentor yang baik mempersiapkan jalan bagi anak-anak rohaninya. Dalam Kitab Yesaya 22:21-23 dan Wahyu 3:8, memberi penjelasan tentang jalan yang ingin Tuhan bukakan bagi anak-anak-Nya. Namun ada hal-hal yang perlu dilakukan oleh seorang mentor dalam perjalanan tersebut. Itu bisa berupa pengertian, dorongan karena mungkin mereka mengalami kegagalan dan berada dalam kelemahan, serta mengalami pergumulan dalam hidup mereka. Memberikan disiplin yang diperlukan untuk mengarahkan mereka kepada tujuan dari visi Allah dan meninggalkan warisan yang baik kepada mereka. Yang dimaksud dengan warisan yang baik adalah teladan hidup dari seorang mentor, mengajarkan ketaatan kepada Firman Tuhan dan mewariskan iman terhadap kebenaran dari firman Tuhan (2 Tim 2:15).

Soli Deo Gloria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *