NILAI
Cinta Tuhan, Rendah Hati, Jujur dan Rajin
JABAR 3B
Bersatu - Berhasil - Berdampak

Antara “COACHING” DAN “MENTORING”

Memahami Coaching

Coaching sangat menarik dan semakin ramai dibicarakan pada saat ini. Sebenarnya, coaching bukan merupakan suatu metode  atau konsep yang baru. Coaching secara alamiah merupakan bagian dari kehidupan seperti layaknya dilakukan oleh orang tua atau guru, orang tua akan berjuang dan berkorban untuk membesarkan anaknya agar menjadi manusia yang berhasil dan mandiri, guru mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan pemikiran anak didiknya agar peserta didik dapat maju dalam hidupnya. Coaching sekarang sudah menjadi metodologi yang canggih dalam pengembangan Sumber Daya Manusia. Dalam dunia sekuler, coaching merupakan suatu ilmu dan profesi baru, namun hal ini belum dipraktikkan sepenuhnya di dalam pelayanan Gereja. Inilah yang mendasari bagi penulis untuk mendorong Gereja-gereja Sidang Jemaat Allah dan Pelayan Injil di Jawa Barat untuk mulai mempraktikkan coaching dalam pelayanannya.

Asal mula Coaching

Dalam sejarahnya, coaching dipakai dalam dunia olah raga yaitu ski dan golf dimana kursus yang dilakukan untuk kedua jenis olahraga ini kurang teknis. W. Timothy Gallwey ahli pendidikan Harvard dan pakar tenis adalah pencetus konsep coaching, ia mengatakan dalam bukunya “Inner Skiing” dan “The Inner Game of Golf” demikian: ”Jika seorang instruktur (pelatih) bisa membantu seorang pemain untuk mengeluarkan atau mengurangi hambatan internal terhadap kinerja mereka, maka kemampuan alami yang tidak terduga-duga akan mengalir keluar tanpa memerlukan banyak masukan teknis dari pelatih itu.” Gaalwey telah menemukan esensi dari coaching, yaitu membuka potensi (kemampuan) seseorang untuk memaksimalkan kinerjanya sendiri dan bukan mau mengajarinya. Dalam hal inilah maka coaching berbeda dengan mentoring karena mentoring bersifat “membantu atau mendampingi orang lain dalam belajar dan mencapai keberhasilan”. Gagasan Gaalwey kemudian disadari oleh dunia profesi pengembangan diri atau Sumber Daya Manusia (SDM) yang melihat bahwa dunia olah raga memiliki istilah coaching dalam membantu seorang atlet untuk mencapai prestasi tertinggi.  Pada tahun 1970- an dan 1980-an, coaching berkembang dalam banyak bidang dan semakin populer sampai hari ini.

Pengertian Coaching

Mungkin kita ingin tahu, dari mana istilah coaching itu berasal? Coaching memiliki kata dasar coach, istilah ini, ternyata berasal dari nama sebuah desa kecil di Negara Hungaria, “Kocs”. Di masa lampau desa ini terkenal akan produksi gerobak atau kereta kuda yang digunakan untuk mengangkut manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Dari istilah ‘Kocs’ maka kita pahami bahwa ‘gerobak atau kereta kuda’ merupakan metafora dari proses coaching, yaitu membawa seseorang dari satu kondisi sekarang ke kondisi yang diinginkan lebih baik lagi.  Istilah coach digunakan di dunia olah raga, yang artinya adalah pelatih.  Definisi Coaching adalah kunci pembuka potensi seseorang (coachee) untuk memaksimalkan potensi atau kinerja pekerjaan/pelayanannya. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar dari pada mengajarinya. Coach memfasilitasi peningkatan atas diri seseorang berorientasi pada hasil dan pertumbuhan pribadi dari coachee (orang yang dilatihnya) .

Asal mula Pelayanan Coaching

Pelayanan Coaching dalam gereja diperkenalkan oleh Christopher Mc Cluskey, seorang konselor dan ahli terapi. Ia sering menjumpai para pasiennya yang sebenarnya tidak membutuhkan konselor. Mereka berada dalam suatu krisis dengan masalah-masalah yang tidak terpecahkan. Mereka membutuhkan seseorang yang dapat manjaga rahasianya, menjadi pendengar yang baik dan memberikan jalan keluar sehingga mereka akan menemukan  kelepasan, damai sejahtera,  sukacita dalam hidupnya. Mc Cluskey setelah menerima pelatihan sebagai coach ia mengambil langkah berani dengan menutup tempat prakteknya dan masuk dalam dunia pelayanan Gereja. Ia membawa keluarganya dan pindah dari Florida ke sebuah pedesaan di Missouri. Baginya coaching lebih daripada sekedar profesi tetapi sebuah pelayanan. Melalui coaching ia menolong orang-orang menemukan potensi dan visi dari Tuhan untuk kehidupan mereka.

Pelayanan Coaching dalam Alkitab

Dalam dunia pelayanan kekristenan, istilah coaching adalah sesuatu yang baru, padahal Tuhan Yesus sendiri sebetulnya sudah menggunakan metode ini dalam Pelayanan-Nya. Yesus melakukan coaching terhadap murid-murid-Nya. Coaching yang dilakukan oleh Yesus adalah coaching dalam bentuk  Servant Leadership, yaitu Dia menjadi role model bagi murid-murid-Nya, menunjukkan apa yang harus dilakukan, mengobservasi kemajuan-kemajuan mereka, mengoreksi kesalah-mengertian mereka dan mengevaluasi terhadap pelayanan-pelayanan mereka. Contoh  lain dari coaching yang dilakukan oleh Tuhan Yesus adalah ketika Ia berjalan dengan dua orang ke Emaus. Yesus hadir di tengah-tengah mereka, lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” Yesus telah men-coach mereka untuk menjalankan Amanat Agung Yesus (Lukas 24:13 – 33). Kemudian, percakapan Yesus dengan perempuan Samaria di tepi sumur Yakub (Yohanes 4 : 4 – 42) dan dengan perempuan yang berzinah (Yohanes 8:3 – 11) juga merupakan percakapan coaching, dimana Yesus dengan penuh mendengar dan tanpa penghakiman. Yesus mengarahkan mereka untuk melihat tujuan hidup di depan dan melupakan yang terjadi di masa lalu.

Pelayanan coaching adalah tentang Pembentukan Kepemimpinan

Pelayanan coaching adalah bentuk kepemimpinan yang melayani dan menolong orang untuk dapat mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya, serta berusaha mengerti orang yang dilayaninya. Hal ini ditunjukkan dalam pelayanan coaching Yesus kepada murid-muridNya bahwa barangsiapa ingin menjadi besar, ia harus menjadi pelayan, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka hendaklah ia menjadi hamba (Matius 20:20 – 28).  Timotius dipakai Tuhan untuk menjadi pemimpin gereja, sebagai generasi penerus Rasul Paulus, Ia masih muda menurut standar sosial masyarakat Yahudi pada waktu itu. Ia memiliki sifat pemalu, kurang percaya diri (I Korintus 16:10; I Timotius 4:12), sakit-sakitan, khususnya gangguan perut (I Timotius 5:23). Namun, Tuhan memakai Timotius dibalik kelemahannya. Tuhan memakai Rasul Paulus sebagai Coaching bagi muridnya, Timotius. Tuhan tahu bahwa Timotius mempunyai potensi sehingga Tuhan mempersiapkan Dia dari sejak  ia masih sangat muda. Neneknya Louis dan Ibunya Eunike, memberi pengaruh yang besar dalam iman dan panggilannya kepada Tuhan. Dan ia siap menjalani proses pengembangan kepemimpinan, apalagi ia berada di tangan coach yang ulung dan tangguh, yaitu Paulus.

Penutup

Setelah memaparkan materi tentang apa itu coaching, maka kita dapat menyimpulkan : Pertama, ternyata coaching itu sangat unik, selalu fokus pada masa depan dan tidak terlalu berfokus pada masalah. Apabila Saudara sebagai coachee, ingatlah, jangan melihat kepada masalah tetapi fokuslah ke depan dan galilah potensi yang ada pada diri sendiri! Kedua, coaching adalah memberdayakan (empowering) kekuatan-kekuatan (strengths) dari potensi-potensi  SDM yang sudah ada di dalam seseorang agar dia memiliki kualitas hidup dan keberhasilan yang lebih baik dibanding sebelum ia di-coaching. Ketiga, coaching adalah kunci pembuka potensi diri seseorang untuk membangun visi ke depan dan berupaya untuk mewujudkannya karena sudah adanya kesadaran dan tanggung jawab.

Pdt. Richard Lasso, M.A.

Wakil Ketua BPD

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *