NILAI
Cinta Tuhan, Rendah Hati, Jujur dan Rajin
JABAR 3B
Bersatu - Berhasil - Berdampak

“Damai di Hati, Damai di Bumi”

Adalah harapan yang seringkali diungkap saat Natal.  Kedamaian yang terwujud adalah pengharapan umat manusia di tengah situasi dunia yang terus menerus bergelora.  Dua bulan setelah dilantik menjadi Presiden RI ke 7, Jokowi menyampaikan ucapan Selamat Natal di wall Facebook pribadinya: “Kepada saudara-saudaraku umat Kristiani yang sedang merayakan Natal, saya mengucapkan  Selamat Hari Natal. Semoga Natal membawa kedamaian. Damai di langit, damai di bumi, dan damai di hati.”  Demikianlah harapan Natal yang didambakan yaitu mewujudnya kedamaian.

Tak dapat dipungkiri bahwa kedamaian merupakan skala prioritas utama dalam kebutuhan manusia.  Sejarah manusia pertama mencatat akibat dosa yang telah dilakukan Adam dan Hawa adalah mengalami rasa takut.  Adam dan Hawa mengalami rasa bersalah, ketakutan, dan rasa malu di hadapan Allah, sehingga kehilangan damai dalam hati.

Pesan Natal pertama yang disampaikan malaikat kepada umat manusia:
“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan. Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2:10-14).

Menjawab kebutuhan umat manusia yang mengalami rasa takut atas penghukuman akibat dosa yang telah dilakukan, Natal adalah sukacita besar karena Yesus telah lahir untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa.  Demikianlah tidak ada penghukuman bagi orang yang percaya kepadaNya.  Ketakutan sirna datanglah damai sejahtera di hati orang percaya.

Damai di Hati
Lahirnya Juruselamat telah menghadirkan damai dalam hati orang percaya namun tidak selamanya damai itu dirasakan oleh orang percaya.  Agar terus-menerus mengalami damai sejahtera, kita harus dipersatukan dengan Kristus dalam iman yang aktif.  Iman yang berpusat pada Kristus akan membentengi hati kita dari pencemaran- pencemaran yang mencuri damai sejahtera.  Kitab Amsal menempatkan hati sebagai pusat kehidupan.  Kita harus menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan.  Hati yang kotor, licik, penuh dendam, kebencian, dan rupa-rupa kejahatan akan merampas damai sejahtera dalam hati kita.  Hati yang penuh kasih, kebaikan, dan pengampunan akan merasakan damai sejahtera.  Juga hidup yang terus menerus dipimpin dan dipenuhi oleh Roh Kudus membuat kita menikmati damai, karena buah Roh-Nya adalah damai sejahtera.

Damai di Bumi
Kedamaian di bumi merupakan pengharapan umat manusia di tengah-tengah dunia yang penuh dengan permusuhan dan peperangan.  Bagaimana hal ini dapat terwujud?  Yesus memerintah-kan agar kita menjadi orang-orang yang membawa damai.
Dengan cara tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, kekerasan dengan kekerasan, melainkan kalahkan kejahatan dengan kebaikan. Balaslah kekerasan dengan kasih.  Hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang (Rom 12:18b).  Mari kita sebarkan kedamaian di manapun kita berada, di rumah, di gereja, di lingkungan masyarakat. Di tengah dunia yang penuh konflik, sikap kita menentukan apakah konflik akan menajam ataukah berkurang bahkan hilang, ketika kita bisa berperan sebagai agen perdamaian.

Bulan Desember ini di berbagai belahan dunia orang percaya merayakan kelahiran Yesus Kristus yang adalah Raja Damai.  Mari kita menyatakan kedamaian dan mewujudkan perdamaian.  Pertama, karena Dia telah mendamaikan kita dengan Allah.  Kedua, karena Dia mendamaikan kita dengan diri sendiri.  Ketiga, karena Dia mendamaikan kita dengan sesama.  Tuhan memberkati.

 

 

 

Pdt. Titin Megawaty

Bendahara BPD GSJA Jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *