NILAI
Cinta Tuhan, Rendah Hati, Jujur dan Rajin
JABAR 3B
Bersatu - Berhasil - Berdampak

“MENTORING SAMPAI MAKSIMAL”

(Oleh: Pdt. Antonius Mulyanto, M.Div.)

Seorang pendaki gunung kawakan sedang membagikan pengalamannya kepada sekelompok pendaki pemula yang mempersiapkan pendakian pertama mereka. Orang itu telah menaklukkan puncak-puncak gunung yang paling ganas, sehingga ia dipercaya untuk memberikan nasihat. “Ingatlah,” katanya, “Tujuan pendakian adalah menikmati kegembiraan dan sukacita karena dapat mencapai … puncak. Setiap langkah membawa kalian mendekati tujuan. Jika tujuan kalian hanyalah untuk menghindari kematian, pendakian kalian akan membosankan dan jarang yang sampai puncak.”

 

Itulah sepenggal kisah mentoring.  Seorang yang lebih cakap, terampil dan berpengalaman menolong seseorang lain atau beberapa yang lain untuk mengembangkan diri mereka sampai maksimal.

 

LATAR BELAKANG SEJARAH

 

Mentor adalah tokoh pengawal laki-laki dan tutor dari Telemachus, anaknya Odyseus dalam cerita Odyse.  Mentor membangkitkan Telemachus sementara sang ayah sedang berperang di Troy.  Dua puluh tahun kemudian saat Odyse kembali, dia menemukan anaknya telah berubah dari seorang anak laki-laki menjadi pria dewasa melalui pembimbingan yang bijaksana dari Mentor.

DEFINISI MENTORING

Secara umum, Meriam Webster mengartikan mentor adalah a) penasihat dan pembimbing yang dapat dipercayai; b) pengajar, pelatih. Sedangkan “protege” atau “mentee” adalah seseorang yang dibimbing dan dibantu khususnya dalam masa depan dan karir oleh orang lain yang memiliki pengaruh melebihi dirinya sendiri.“

 

Secara khusus, dalam konteks kekristenan atau kerohanian, beberapa tokoh mendefinisikan mentoring sebagai berikut :

1) Paul Stanley & Robert Clinton : “Mentoring is a relational experience in which one person empowers another by sharing God given resources”. Mentoring adalah sebuah pengalaman hubungan ketika seseorang memberdayakan orang lain dengan berbagi sumber-sumber atau karunia-karunia yang diberikan oleh Allah.

2) Herdy N. Hutabarat: Pengertian Mentoring dalam lingkup yang lebih luas adalah Proses yang bersifat relasi antara mentor, seorang yang mengetahui atau punya sesuatu (sumber-sumber kebijaksanaan, informasi, pengalaman, keyakinan, pandangan, hubungan, status dll.) dengan mentee (anak mentor) dan mentransferkannya kepada mentee tersebut, pada kurun waktu tertentu dan keadaan tertentu, sehingga terjadilah fasilitasi perkembangan atau pemberdayaan”. Dalam pengertian yang lebih luas fungsi dan jenis mentoring itu bisa mencakup dalam 7 (tujuh) area secara spesifik, dimana orang-orang yang melakukan prosesnya disebut : Discipler (Pembuat murid), Spiritual Guide (Pembimbing Rohani), Coach (Pelatih), Counselor (Konselor), Teacher (Guru), Sponsor dan Model (Role Model atau Panutan). Masing-masing jenis mentoring di atas punya ciri khas tersendiri dalam menolong orang lain untuk bertumbuh mencapai potensi maksimum mereka.

3) DR John C Maxwell : Mentoring is the first and last task of a leader. It is the first task of a leader because everyone who wants to lead the “masses” ought to begin by leading one person. It is the last or ultimate task of a leader because the acid test of any leader is are they able to reproduce themselves in others?”
Mentoring adalah tugas pertama dan terakhir dari seorang pemimpin. Ini merupakan tugas pertama seorang pemimpin karena setiap orang yang ingin memimpin sebuah massa atau orang banyak perlu memulai memimpin dari satu orang terlebih dahulu. Ini juga merupakan tugas terakhir seorang pemimpin karena ujian sesungguhnya dari seorang pemimpin adalah apakah mereka bisa memultiplikasikan diri mereka dalam diri orang lain?

Dr. Tim Elmore juga menegaskan, “Keberhasilan tanpa adanya penerus sama saja dengan kegagalan. Kedua hal tersebut yakni kepemimpinan dan  mentoring, adalah tentang multiplikasi rohani. Keduanya adalah tentang mengembangkan orang-orang.

Rasul Paulus sudah mengajarkannya kepada Timotius, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain” (II Tim 2 : 2).

CONTOH-CONTOH MENTORING

Contoh Mentoring dalam Sejarah Umum

Anne Sullivan dan Hellen Keler memiliki hubungan yang menarik. Sinergi dari keduanya menghasilkan dampak yang luar biasa bagi Hellen Keller sehingga hidupnya menjadi berkat bagi banyak orang.

Rick Warren dengan terus terang menyaksikan bahwa Peter Drucker adalah mentor yang telah memberi pengaruh besar dalam kehidupannya juga dalam kesuksesan buku “Purpose Driven Church””.

Contoh Mentoring dalam Sejarah Alkitab

Beberapa contoh praktek mentoring dalam alkitab terdapat dalam kehidupan tokoh-tokoh sebagai berikut :

  • Yitro (mertua Musa) mementor Musa menantunya sendiri,
  • Musa mementor Yosua,
  • Naomi mementor Ruth,
  • Eli mementor Samuel,
  • Elia mementor Elisa,
  • Ezra mementor Nehemiah,
  • Elizabeth mementor Maria (ibu Yesus),
  • Tuhan Yesus mementor (memuridkan) ke 12 muridnya yang disebut Rasul,
  • Barnabas mementor Paulus.
  • Paulus mementor Timotius, dan lain sebagainya.

Mike Oney dalam artikel “Ä Mentoring Model from a Biblical Example“ mengupas pola mentoring yang dilakukan Paulus dalam memberdayakan Timotius:

 

  1. Melihat Kualitas-Kualitas Baik.

Kita menyaksikannya saat Paulus mencatat tentang keluarga, panggilan, dan karunia Timotius (2 Timotius 1:3-7). Goleman, Boyatzis, dan McKee mengingatkan kita dalam buku mereka “Primal Leadership” bahwa awal dari perkembangan pribadi, sering kali dimulai bukan dengan menilai kelemahan-kelemahan kita, tetapi dengan melihat kebaikan (hal-hal yang ideal) dalam diri kita. Paulus memperlihatkan kemampuannya memandang melampaui permukaan hidup Timotius dan bersaksi tentang kualitas-kualitas baik, yang dengan mudah terabaikan oleh orang lain. Kualitas pertama seorang mentor adalah melihat sesuatu yang ideal dalam hidup mentori. Kita tidak mungkin menginvestasikan diri kita kepada orang yang menurut kita tidak layak mendapatkan investasi.

  1. Mendorong agar Mentori Memelihara Karunia Istimewanya.

Paulus menyatakan bahwa Timotius harus “memelihara harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya” dalam hidupnya (2 Timotius 1:14). Dalam 2 Timotius 2:1-7, kita menemukan Paulus memberikan petunjuk yang jelas kepada anak didiknya tentang cara untuk menginvestasikan karunia istimewanya. Secara khusus, Paulus menggunakan tiga analogi untuk menyampaikan pesan pemeliharaan ini. Pertama, Timotius harus berpikir seperti seorang prajurit yang mengetahui bahwa kesetiaan utamanya adalah kepada komandannya. Kedua, Timotius harus berpikir seperti seorang olahragawan yang menyerahkan hidupnya kepada kedisiplinan yang akan membangun parameter-parameter tingkah laku dan kebiasaan di dalam kehidupannya. Yang terakhir, dia harus berpikir seperti seorang petani yang memahami bahwa pada akhirnya, ia akan menikmati segala hasil usahanya. Titik kunci dari kualitas kedua Paulus sebagai mentor ini adalah dia membimbing investasi Timotius kepada tujuan yang Timotius ciptakan dalam hidup. Berapa sering kita melihat talenta yang disia-siakan hanya karena pola pikir yang menyebabkan seseorang mundur alih-alih melangkah maju? Paulus tahu bahwa jika Timotius ingin menggenapi kerinduan hidupnya, dia harus belajar dari sudut pandang seorang tentara, atlet, dan petani.

  1. Memberi Peringatan tentang Kelemahan-kelemahannya.

Kita melihat Paulus memperingatkan Timotius tentang bidang-bidang yang menjadi kelemahannya. Dalam 2 Timotius 2:20-23, Paulus meninjau bidang-bidang yang dapat menjadi kekuatannya dan bidang-bidang lain yang dapat menyebabkan kelemahannya. Dalam model pembelajaran mandiri Boyatzis (juga dalam “Primal Leadership”), kita melihat penekanan yang diberikan dalam hal mencari tahu mengenai kekuatan dan kelemahan kita, sehingga dapat mencapai kemampuan-kemampuan kita dengan seutuhnya. Paulus langsung menantang Timotius bahwa beberapa sifatnya akan melemahkan hidupnya sampai pada titik ketidakefektifan, sementara itu kualitas-kualitas yang lain akan memperkuatnya. Sebagai mentor yang bijaksana, Paulus menekankan bahwa kualitas-kualitas karakter ini terletak dalam tanggung jawab Timotius sendiri. Tom Landry, seorang pelatih American football, mempunyai kebijakan bahwa jika ada pemain berbakat yang menunjukkan pilihan hidup yang buruk, kemungkinan besar ia tidak akan memilihnya sebagai anggota tim. Ia belajar lewat pengalamannya bahwa talenta yang besar tidak dapat menebus kompromi moral. Paulus tampaknya memunyai kesimpulan yang sama sebagai seorang mentor.

  1. Menyatakan Perlunya Kegigihan.

Secara realistis Paulus menunjukkan cakupan kesulitan yang harus dihadapi Timotius dalam 2 Timotius 3:1-9. Bacaan ini mencerminkan bahwa Paulus memahami konteks pelayanan Timotius acap kali dapat terasa berat. Mentoring yang bijaksana tidak hanya menunjukkan puncak kehidupan yang dijalani dengan baik, tetapi juga kebenaran bahwa kegigihan dalam menjalankan tugas-tugas yang sangat berat pun sangat diperlukan.

  1. Menjadi Teladan.

Paulus menunjukkan bahwa dirinya sendiri adalah teladan yang baik bagi Timotius. Tidak ada ucapan “lakukan seperti apa yang kukatakan, jangan seperti apa yang kulakukan” dari Paulus. Sebaliknya, dia dengan tegas menyarankan agar Timotius mengikuti teladan tentang bagaimana dia berinvestasi dalam hidupnya, dan bahwa dia tidak akan kecewa (2 Timotius 3:14).

APLIKASI MENTORING MASA KINI

Herdy N. Hutabarat mengungkapkan bahwa ada dua tipe kegiatan mentoring yakni yang bersifat alami dan yang direncanakan. Yang bersifat alami misalnya melalui persahabatan, minta nasihat atau konseling. Sedangkan mentoring yang direncanakan adalah melalui program-program terstruktur ketika mentor dan mentee melakukan proses mentoring bersama-sama dengan mengadakan kesepakatan atau perjanjian terlebih dahulu, misalnya program pemuridan atau program training ketika mentor dan mentee memilih dan memadukannnya melalui proses-proses yang formal.”

 

Karakteristik untuk menjadi seorang mentor yang baik adalah :

  1. Dapat dipercaya.
  2. Memiliki semangat yang tinggi dan tidak mudah menyerah.
  3. Memiliki kemampuan untuk menasihati orang lain.
  4. Memiliki sikap mental positif (positif thinking) .
  5. Memiliki ketrampilan atau keahlian yang efektif.
  6. Memiliki visi.

 

Sementara itu, karakteristik untuk menjadi seorang mentee yang baik adalah :

  1. Memiliki keinginan belajar untuk meningkatkan kemampuannya.
  2. Memiliki komitmen dalam hal waktu untuk bertemu dengan mentor.
  3. Mau menerima nasehat (umpan balik/ feed back).
  4. Ada keterbukaan dan tidak segan-segan untuk meminta pertolongan.

 

Mentoring sangat berkaitan erat dengan masalah kepemimpinan (leadership).  Seorang mentor perlu membimbing serta memimpin mentee sehingga mentee dapat menjadi maksimal dalam segala aspek kehidupan.

 

 

Donald Sadoway menyaksikan, “In a battery, I strive to maximize electrical potential. When mentoring, I strive to maximize human potential.” – “Dalam baterai, saya mengusahakan potensi listrik yang maksimal. Dalam mentoring, saya mengusahakan potensi manusia yang maksimal.”

 

Oleh karena itu, mentoring seharusnya diaplikasikan dalam berbagai hubungan, antara lain:

  • gembala dan staff pastoral,
  • gembala dan pemimpin kelompok kecil,
  • pemimpin kelompok kecil dan anggota,
  • guru dan murid,
  • worship leader dan singer,
  • pemusik senior dan junior,
  • gembala gereja yang bertumbuh dan gembala gereja baru.

 

Akhir kata, hubungan mentoring tidaklah berlangsung seumur hidup.  Mentoring hanya perlu dilakukan sebatas kurun waktu yang dibutuhkan bagi mentor untuk memberdayakan kehidupan mentee menjadi maksimal.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *