NILAI
Cinta Tuhan, Rendah Hati, Jujur dan Rajin
JABAR 3B
Bersatu - Berhasil - Berdampak

KEPEDULIAN AKAN KEBUTUHAN SEORANG MENTOR

“Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya”

(1 Tesalonika 2:11-12)

 

Pementoran sama tuanya dengan peradaban itu sendiri. Melalui proses pementoran pengalaman dan nilai-nilai dapat diteruskan dari generasi yang satu kepada generasi selanjutnya. Pementoran sudah terjadi di antara nabi-nabi Perjanjian Lama, seperti Imam Eli mementor Samuel (1 Sam. 3:1), Elia mementor Elisa, dan Ezra mementor Nehemia. Pementoran juga terjadi di antara pemimpin-pemimpin Perjanjian Lama, seperti Musa, mementor Yosua, Yitro (mertua Musa) mementor Musa, menantunya sendiri. Dan hal yang sama terjadi dalam keluarga-keluarga, seperti Rut mementor Naomi (Rut 1:7-18; 2:17-2:16). Hal yang sama juga terjadi pada pemimpin-pemimpin Perjanjian Baru, seperti Barnabas mementor Paulus, Paulus mementor Timotius. Sepanjang sejarah manusia, pementoran merupakan sarana utama untuk meneruskan pengetahuan dan keterampilan di setiap bidang — dari filosofi-filosofi Yunani sampai kepada pelaut-pelaut — dan setiap kebudayaan.[1] Tetapi di zaman modern, proses mentoring telah bergeser, manusia telah bergantung pada komputer, ruangan kelas, buku-buku, dan video. Jadi, sekarang ini kaitan relasi antara si pemberi pengetahuan dan pengalaman dengan si penerima telah melemah atau hampir tidak terlihat lagi. Padahal belakangan ini, banyak umat Tuhan dan tidak sedikit hamba-hamba Tuhan, sedang berteriak, “Tolong, mentori saya” atau “Maukah Anda membimbing saya?” Pengakuan akan kebutuhan ini, diungkapkan dalam banyak cara dan ada di segala bidang: bisnis, pelayanan, keluarga, karier dan gereja. Setiap orang perlu seorang mentor. Baik hamba-hamba Tuhan ataupun jemaat, baik yang sudah lama melayani, maupun yang baru saja mulai melayani, baik yang menggembalakan 1000 jemaat, 100 jemaat, atau 10 jemaat, kita sama-sama memerlukan seorang mentor.

Berapa banyak Saulus ada di gereja kita sekarang ini, yang justru sedang menanti-nantikan seorang Barnabas. Yang mereka butuhkan adalah seseorang yang dapat mereka ajak bicara, seseorang yang pernah mengalami apa yang baru mulai mereka alami, serta berdoa bersama mereka. Tetapi siapa? Jika Anda ingin berkat khusus dari Allah, terjadi pada hidup Anda, Anda perlu belajar dari orang-orang percaya lainnya yang lebih dewasa daripada Anda, dan Anda perlu untuk membimbing orang-orang percaya yang lebih muda dari Anda. Kalau kita membaca 2 Timotius 2:2 Ajaran yang dahulu sudah kau dengar dari saya di depan banyak orang, hendaklah kau percayakan kepada orang-orang yang dapat dipercayai dan yang cakap mengajar orang lain.” Dari ayat ini saja kita sudah menemukan pementoran empat generasi. Paulus berkata kepada Timotius, bahwa ia akan membantu mementor dia, dan sekarang Timotius harus menemukan orang lain untuk dimentor oleh dia, dan kemudian orang yang sudah ditemukan dan dimentor oleh Timotius, harus menemukan orang lain lagi untuk dimentor kembali. Jangan “terintimidasi” oleh kata “mentoring.” Mentoring semudah memanggil seseorang untuk sarapan sekali sebulan dan bertanya kepada mereka, “Bagaimana kabarmu?” Anda hanya perlu menjadi seorang teman. Mendengarkan, mendorong, dan berdoa untuk orang itu. Anda tidak perlu menjadi orang Kristen atau menjadi Gembala Sidang yang sempurna untuk melakukan hal ini. Anda hanya perlu bersedia. Ketika Anda bersedia melakukan ini, Anda akan menerima berkat Allah, yang tidak bisa Anda bayangkan dalam hidup Anda.

GSJA di Jawa Barat harus Belajar dari Gereja Korea

Presentasi tingkat pertumbuhan Gereja di Korea mengalami penurunan drastis dari tahun 1989-1993. Dari tingkat pertumbuhan 9%, menjadi minus 4%. Secara umum dapat dikatakan penyebab penurunan ini adalah:

  1. Tingkat kemakmuran yang tinggi, sehingga orang lebih suka memilih menghabiskan hari Minggu di pinggiran kota atau berolahraga daripada beribadah ke gereja.
  2. Adanya kebebasan hidup bernegara. Kekristenan mendapatkan angin segar untuk bergerak tanpa ada penganiayaan atau rintangan. Sistem pendidikan yang kurang menguntungkan bagi anak-anak muda di Korea.
  3. Para remaja menjadi sangat kompetitif. Mereka berjuang untuk masuk ke universitas yang lebih baik. Para siswa belajar pagi, siang, dan malam dari pukul 07.00 hingga pukul 22.00 atau 23.00. Mereka tidak ada waktu untuk memupuk kerohanian mereka.[2]

Jun Ho Jin, professor misi pada ACTS Seoul, memberi alasan-alasan bahwa penurunan tingkat pertumbuhan gereja di Korea sbb.:

  1. Pertumbuhan gereja yang terlalu cepat dan kurangnya pemuridan terhadap jiwa-jiwa baru.
  2. Pertumbuhan pada masa lalu merupakan akibat dari krisis yang terjadi pada bangsa Korea dan pertumbuhan itu adalah penyelesaian krisis yang telah terjadi.
  3. Menurunnya keadaan rohani dan kebangunan- kebangunan rohani.
  4. Gigihnya kompetisi gereja-gereja besar dan kesulitan untuk membuka gereja baru.
  5. Hilangnya citra gereja dan munculnya problem di dalam gereja.
  6. Pelayanan gereja memperlengkapi generasi tua, tetapi meninggalkan generasi muda.
  7. Kurangnya penyesuaian gereja dalam perubahan-perubahan sosial yang ada.
  8. Cepatnya perubahan sosial dan menurunnya masyarakat desa dan gereja desa.
  9. Perubahan world view dari absolute truth ke relative religious pluralism.
  10. Bangkitnya banyak bidat dan pengaruh ideologi baru.
  11. Bangkitnya gerakan pembebasan wanita dan kurangnya orientasi pada keluarga kristen.

Ro, ahli sejarah gereja dan Misi, mengajukan tiga masalah yang dihadapi oleh gereja-gereja di Korea, yaitu:

  1. Perpecahan. Di Korea, banyak gereja lokal yang kuat di bawah pimpinan seorang pendeta yang cakap. Mereka merasa tidak perlu bekerjasama dengan denominasi lain. Terjadi perpecahan antara gereja-gereja ekumenikal dengan gereja-gereja evangelikal. Mereka harus belajar tentang kemitraan.
  2. Gereja kurang menaruh perhatian pada masalah-masalah sosial. Gereja hanya memperhatikan pada masalah-masalah dalam gereja saja dan tidak menyentuh masalah dalam masyarakat sekitarnya di mana ia hidup. Hal ini menimbulkan antipati dari orang-orang non Kristen.
  3. Masalah gereja-gereja besar. Gereja dengan jemaat 700.000 orang, 60.000 orang. Apakah gereja mampu memuridkan mereka? Apakah jemaat gereja ini bisa terpenuhi kebutuhan rohani mereka? Apakah ada persiapan suksesi kepemimpinan?

Selain hal-hal di atas, ada dua hal yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup gereja-gereja di Korea, yaitu:

  1. Injil kemakmuran. Beberapa orang beranggapan bahwa menjadi orang Kristen akan menjamin hidup sehat dan sukses dalam bisnis/pekerjaan. Memang Alkitab mengajarkan hal ini, namun bukan merupakan pengajaran utama. Yesus juga mengajarkan murid-murid-Nya membayar harga dari iman, dan siap menderita. Bahaya dari ajaran ini: memanjakan orang Kristen sehingga orang Kristen tidak siap menghadapi penderitaan, penganiayaan, dan tidak bisa survive.
  2. Injil Humanisme. Pengajaran yang menekankan pembahasan tentang kehidupan manusia di dunia. Tidak menyampaikan pengajaran tentang dosa, hukuman, murka Allah, kekudusan Allah, keadilan Allah, penebusan, pengampunan, pembenaran, pengudusan, dan keselamatan hanya dalam Tuhan Yesus Kristus.[3]

Dari semua permasalahan di atas, dapat disimpulkan penyebab utama pertumbuhan gereja di Korea mengalami penurunan yang sangat drastis adalah hilangnya proses mentoring/pembimbingan rohani baik di dalam jemaat, dan di dalam pemimpin gereja. Guru yang paling berharga adalah pengalaman. Selain pengalaman pribadi, adalah baik, kita juga bisa belajar dari pengalaman gereja di Korea, dan tidak perlu melakukan kesalahan-kesalahan yang sudah mereka lakukan sebelumnya. Oleh karena itu, semua orang sangat membutuhkan mentor, tapi sangat sedikit orang memilikinya. Mengapa? Alasannya banyak, orang benar-benar tidak tahu bagaimana untuk menemukan orang yang tepat, atau takut ditolak membuat mereka bertanya. Mendapatkan mentor menjadi masuk ke dalam kategori “penting tapi tidak mendesak”, hal ini sangat berbahaya, karena mereka tidak akan pernah mencari mentor buat mereka. Persoalan yang lain adalah mereka tidak pernah melihat seperti apa hubungan mentoring yang sehat, sehingga mereka tidak pernah mengambil langkah pertama. Yang harus ditemukan dalam mentoring adalah bagaimana untuk menemukan orang yang tepat, bagaimana memulai suatu hubungan mentoring, pertanyaan apa yang harus ditanyakan, dan bagaimana menjaga hal-hal agar tetap di jalur yang tepat dengan mentor Anda. Mengapa kita harus mendapatkan mentor?

Pertama, mentor dapat membantu Anda menavigasi jalan yang lebih lancar. Seorang mentor adalah seseorang yang telah lebih lama beberapa tahun berjalan daripada Anda, memiliki pengalaman di belakang mereka.

Kedua, mentor membawa perspektif yang segar. Sulit untuk melihat kekuatan Anda sendiri, kelemahan, dan tantangan yang jelas. Mentor dapat membantu Anda memahami diri sendiri yang lebih baik dan melihat hal-hal sebagaimana yang seharusnya.

Ketiga, mentor membuat Anda mengajukan pertanyaan yang sulit. Mentor Anda memiliki kekuatan untuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan sulit itu, mempertimbangkan apa yang benar-benar Anda butuhkan dan ke mana Anda benar-benar ingin pergi. Jika Anda tidak tahu apa yang Anda butuhkan, Anda tidak berpikir bahwa hal itu cukup. Mentor membuat Anda berpikir dan dapat memberi dorongan kepada Anda jika Anda terjebak.

Keempat, mentor menormalkan perjuangan Anda. Anda akan mendengar dengan sangat meyakinkan, mentor Anda mengatakan, “Anda berjuang dengan hal ini? Saya berjuang dengan itu juga. Semua orang melakukannya.”

Kelima, mentor secara nyata meningkatkan kinerja pekerjaan kita. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa orang dengan memiliki seorang mentor, akan membuat lebih banyak mendapatkan uang di tempat kerja, dipromosikan lebih sering, dan lebih puas dengan pekerjaan mereka. Manfaat mentoring di luar tempat kerja mungkin lebih sulit untuk diukur tetapi manfaat yang mereka terima nyata.

By: Kennedi Sihotang, M.Th.

 

[1] Paul D. Stanley dan J. Robert Clinton, Mentor (Malang: Gandum Mas, 1992), 17.

[2] http://www.slideshare.net/blessing4myfam/bmf-1-spiritual-mentoring. Diakses 27 Januari 2017.

[3] Amos Sukamto, Rahasia Keberhasilan Gereja di Korea. Bandung, 2006.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *