NILAI
Cinta Tuhan, Rendah Hati, Jujur dan Rajin
JABAR 3B
Bersatu - Berhasil - Berdampak

PEDOMAN SEORANG MENTOR

   Dalam artikel ini, Penulis akan menguraikan pokok bahasan yang terdiri dari fokus hidup seorang mentor, orientasi hidup seorang mentor, fondasi hidup seorang mentor, sikap hati seorang mentor, tujuan akhir seorang mentor, nilai inti seorang mentor.

Fokus Hidup Seorang Mentor

   Sejak diabadikan melalui film, “Sleepless in Seattle hingga “King Kong, Gedung Empire State di New York menjadi salah satu gedung pencakar langit yang terkenal di dunia. Tetapi di saat para turis sibuk memotret struktur atas bangunan, tidak ada satu pun yang memperhatikan bagian terpenting dari gedung tersebut, yaitu struktur bawah/struktur dasar yang memungkinkan gedung itu bisa menjulang tinggi. Dalam hidup ini, kita juga cenderung tertarik pada apa yang terlihat, tapi kurang penting. Kita menilai dan berbangga hati atas pengaruh dan pencapaian kita. Namun, seharusnya, perhatian terbesar kita bukanlah pada wajah bangunan yang tampak dari luar. Kekuatan kita yang sesungguhnya terletak pada dasar bangunan, fondasi yang tidak terlihat. Karena tanpa dasar yang dalam dan kuat, konstruksi penyangga tidak mampu menopang bangunan yang ada. Seorang mentor yang bijak tidak akan mengabaikan struktur bawah, atau hal-hal yang mendasar dari kehidupannya dan kehidupan orang yang sedang dimentornya. Siapa kita, apa yang kita lihat, apa yang kita baca, apa yang kita lakukan ketika tidak ada seorang pun yang melihat, akan membentuk struktur dasar kehidupan kita. Ini merupakan sebuah fondasi yang akan dapat bertahan menghadapi tekanan dan goncangan yang hebat dalam kehidupan kita. Dasar yang kuat di dalam Tuhan ini, harus terus dirawat dan diperkuat melalui disiplin-disiplin rohani. Dan ini adalah pekerjaan seumur hidup dari mentor, maupun mentee.

   Di atas dasar tersebut ada pilar bangunan, juga balok-balok, dan tiang-tiang penyangga yang secara bersama-sama membentuk kerangka bagi dinding dan lantai bangunan. Pilar-pilar penyangga ini adalah bidang-bidang kehidupan yang perlu kita jaga. Seperti waktu bersama Tuhan; waktu bersama istri dan anak-anak kita; waktu berolah raga; waktu bersama komunitas orang percaya. Ketika pilar-pilar penyangga ini tidak berada pada tempatnya, bangunan kita akan memiliki bidang lantai dan letak ruangan yang tidak beraturan. Struktur atas bangunan merupakan gambaran dari pencapaian-pencapaian yang terlihat dalam kehidupan dan pelayanan kita. Kita membangunnya dengan kemampuan dan keahlian kita. Kita mengokohkannya dengan bekerja sebaik-baiknya, seperti untuk Tuhan, dalam ketaatan dan kesetiaan. Namun, struktur atas ini bermanfaat hanya apa bila ada struktur bawah yang kokoh dan konstruksi penyangga yang dibangun pada tempatnya. Kekuatan, keindahan, dan ketahanan sebuah bangunan terletak pada dasar dan pilar penyangga yang ada di bawahnya. Bacalah I Samuel 13:1-14, struktur dasar dan pilar penyangga apa yang kurang dalam kehidupan Saul? Jadi, seorang mentor yang bijak tidak akan mengabaikan struktur bawah atau hal-hal yang mendasar, dan pilar-pilar penyangga dari kehidupan orang yang dimentornya, karena itu adalah wajah keseluruhan dari pelayanan kita.

Orientasi Hidup Seorang Mentor

   Pada masa kini pusat perhatian dunia tertuju kepada orang-orang yang sukses. Tolak ukur keberhasilan sering dipusatkan pada kekayaan atau kelebihan kita, seperti apa yang kita miliki; pergaulan kita, seperti siapa yang kita kenal; penampilan kita, seperti bagaimana rupa kita; kemampuan kita, seperti apa yang dapat kita lakukan; dan pencapaian kita, seperti apa yang telah berhasil kita lakukan. Orientasi hidup manusia dapat digambarkan seperti sebuah diagram dengan dua indikator berwarna merah dan biru. Merah sisi eksternal, sedangkan biru adalah sisi internal. Sisi merah menunjukkan standar duniawi. Orang tipe merah mengukur kehidupannya dengan tolak ukur duniawi. Tipe merah tertarik pada hal-hal lahiriah. Sisi biru menunjukkan cara hidup sebagai murid Yesus Kristus. Orang tipe biru menghargai hal-hal yang bersifat mendalam, seperti integritas, karakter, dan sikap hati yang berserah. Hidupnya terus bertumbuh dari dalam keluar. Orang tipe biru tertarik pada hal-hal rohani.

Pertanyaannya adalah sisi merah mana saja yang menjadi pergumulan Anda? Sisi biru mana dalam kehidupan Anda yang belum bertumbuh? Mengapa Yesus memanggil kita untuk hidup dengan sisi biru? Ketika sisi merah dalam hidup Anda melebihi sisi biru (ketika kecakapan dan kesuksesan lebih diutamakan daripada karakter dan kejujuran), tanpa disadari hidup kita tidak lagi dapat berakar dalam. Karena itulah kita perlu membangun sisi biru, yaitu bertumbuh dari dalam! Kita hidup dalam dunia yang lebih mementingkan pencapaian indikator merah. Tetapi seorang mentor yang bijaksana tidak akan mengabaikan pentingnya pertumbuhan sebagai sisi biru di tengah dunia yang penuh sisi merah!

 

Fondasi Hidup Seorang Mentor

   Kadangkala kita mendengar keluhan: “Orang itu berstatus pemimpin tapi tidak menunjukkan sosok seorang pemimpin.” Pada akhirnya yang membuat orang tersebut sebagai pemimpin adalah substansi hidupnya, bukan statusnya. Status dalam kepemimpinan berbicara tentang gelar yang kita miliki dan posisi yang kita pegang. Sosok kepemimpinan meliputi dua aspek: kredibilitas kita, yaitu bagaimana orang lain memandang kita; dan kepercayaan diri kita, yaitu bagaimana kita memandang diri kita. Tetapi yang jauh lebih penting ialah substansi hidup kita, yaitu bagaimana Allah memandang kita. Analogi gunung es sangat tepat dipakai untuk menggambarkan hal ini. Apa yang terlihat di atas air mewakili status dan sosok kita di mata orang lain. Apa yang berada di bawah air mewakili substansi hidup kita, membentuk bagian terbesar dari identitas kita (apa yang dilihat oleh Allah).

   Ada rasa aman ketika kita punya status, sosok dan substansi. Tetapi, rasa aman yang sejati adalah ketika hati kita tetap tenang sekalipun tak punya kedudukan tinggi, ini menunjukkan adanya substansi dalam kepempinan kita. Pada akhirnya, Allah lebih tertarik melihat seberapa jauh kita telah bertumbuh menyerupai-Nya daripada seberapa banyak yang telah kita capai bagi-Nya.

   Saat kita mengembangkan dan bertumbuh dalam hal-hal yang substansial, status dan sosok kepemimpinan kita akan dibangun di atas landasan yang kokoh. Kita pun akan hidup dengan tiga sikap seperti berikut: 1) Authenticity. Ketulusan dalam ibadah (tidak sekedar memakai topeng rohani). 2) Brokenness. Kehancuran dalam menjalani hidup (bersedia mengakui kelemahan dalam hidup kita). 3) Courage. Keberanian dalam berkarya. Saya mengajak Anda untuk membaca Filipi 3:4-14, dan mengajak Anda menjawab beberapa pertanyaan berikut ini: Apakah kepemimpinan Paulus didasarkan atas status, sosok, atau substansi? Bagaimana bisa demikian? Mengapa substansi hidup lebih menolong kita dalam menghadapi krisis, kritikan, dan pujian, dibanding dengan status dan sosok kita?

   Jadi, seorang mentor yang bijak memahami apa yang pada akhirnya membuat kita disebut sebagai seorang pemimpin Substansi!

Sikap Hati Seorang Mentor

   Ada tiga hal yang perlu Anda pahami sebagai seorang mentor tentang sikap hati. Pertama, tidak ada yang perlu dibuktikan, berbicara tentang rasa aman di dalam Allah. Kedua, tidak ada yang perlu dianggap rugi, ini menunjukkan penyerahan diri yang penuh kepada Allah. Ketiga, tidak ada yang perlu disembunyikan, ini berhubungan dengan integritas sejati di hadapan Allah.

   Akar masalah dibalik ketidakmampuan kita untuk mengalami ketiga hal ini adalah kurangnya rasa aman dalam hati kita. Kurangnya rasa aman menyebabkan kita terjebak dalam upaya untuk selalu terlihat baik. Dorongan untuk selalu terlihat baik ini membentuk ego diri yang rapuh, menyebabkan kita membuat perbandingan diri yang tak perlu dengan orang lain. Perlahan namun pasti, iri hati dan cemburu pun menampakkan belangnya.

   Iri hati dan cemburu itu tidak sama. Iri hati adalah menginginkan apa yang dimiliki orang lain karena kita tidak memilikinya. Cemburu timbul ketika orang lain memiliki apa yang juga kita miliki, tetapi lebih baik atau lebih banyak dari yang kita miliki!

   Akibatnya, kita sering merasa sulit untuk ikut senang dengan kelebihan dan kesuksesan orang lain. Kain membandingkan persembahannya dengan persembahan Habel, dan tidak dapat memahami mengapa Allah menolak persembahannya. Padahal, yang mereka bawa sama-sama merupakan persembahan sulung mereka. Dalam kecemburuannya, ia membunuh Habel. Harga dirinya terinjak. Kunci untuk hidup tanpa perlu pembuktian diri adalah kerendahan hati. Filipi 2:3 mengingatkan kita, “Janganlah melakukan sesuatu karena didorong kepentingan diri sendiri, atau untuk menyombongkan diri. Sebaliknya hendaklah kalian masing-masing dengan rendah hati menganggap orang lain lebih baik dari diri sendiri” (BIS). Dalam hidup, kerendahan hati biasanya berjalan berdampingan dengan penyerahan diri. Namun, kita bergumul untuk menyerahkan hak-hak kita. Rasa tidak aman membuat kita takut untuk berserah penuh. Kehilangan segalanya demi Kristus itu menakutkan bagi kita, tapi kita takut untuk menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Allah. Kita lupa bahwa berserah itu bukan berhenti melakukan sesuatu (giving up); tetapi terus-menerus menundukkan diri (giving in) kepada Allah.

   Kita gagal memahami bahwa rasa aman sejati akan kita peroleh saat kita menemukan, dan mengakui bahwa kepuasan hanya di dalam Kristus. Begitu kita menyadarinya, kita dapat menyerahkan diri sepenuhnya dan hidup tanpa takut. Bila Kristus adalah segalanya, maka memiliki Kristus saja itu sudah cukup.

   Akhirnya, rasa tidak aman juga menyebabkan kita berusaha menyamarkan dosa-dosa kita dengan berbagai kepura-puraan untuk mengurangi rasa bersalah. Ketika kita hidup dalam pertobatan sejati, tidak ada lagi yang perlu kita sembunyikan. D.L Moody pernah berkata, “Dalam empat puluh tahun pertama dalam hidupnya, Musa berpikir bahwa ia adalah seorang yang hebat. Selama empat puluh tahun berikutnya ia belajar bahwa ia sebenarnya bukanlah siapa-siapa. Empat puluh tahun terakhir dalam hidupnya ia menyaksikan apa yang dapat Allah perbuat melalui seorang yang bukan siap-siapa.” Sebagai pertanyaan untuk perenungan kita bersama, saya mengajak Anda membaca 1 Samuel pasal 10-12. Apa yang sedang berusaha “dibuktikan” dan yang sedang berusaha “disembunyikan” oleh Saul dalam ketiga pasal ini? Dan apakah yang dicatat sebagai keinginan Paulus dalam Filipi 3:7-10? Seorang mentor yang bijak, akan dapat memahami bahwa Allah dapat melakukan hal-hal yang luar biasa melalui seorang yang biasa. Seorang biasa yang tidak merasa perlu pembuktian diri, tidak pernah merasa takut rugi, dan tidak punya sesuatu pun yang perlu disembunyikan.

Tujuan Akhir Seorang Mentor

   Di dalam mentoring Kristen, kita dibimbing dengan sebuah tujuan. Para mentor terbaik tidak fokus pada program tetapi pada tujuan. Artinya, mentoring dilakukan dengan sasaran akhir yang jelas. Ada empat sasaran mentoring yang menuju pada hasil akhir:

  1. Membentuk sebuah sudut pandang.

   Cara pandang kita terhadap dunia harus distel ulang secara radikal. Kita perlu menemukan, mengalami, dan menjadikan kebenaran sebagai bagian dari hidup kita. Ini dapat terjadi apabila kita mau membenamkan pikiran kita dalam Firman Tuhan dan melatih hati kita untuk mentaatinya. Kita perlu terus dibimbing dengan Firman Tuhan.

   Tidak ada jalan pintas untuk memperbaharui pikiran. Kebenaran itu harus ditanamkan setiap hari. Perspektif kita berkembang ketika diberi makan Firman Tuhan setiap hari. Kita ingin memiliki sudut pandang yang dibentuk secara khusus oleh Firman Tuhan dan oleh ketaatan yang terus-menerus.

  1. Membentuk sebuah sikap.

   Menarik bahwa Tuhan kita tidak terkesan dengan pengetahuan yang dimiliki kaum Saduki dan Farisi. Tuhan menghendaki sesuatu yang lebih dari sekedar pengetahuan. Yang Dia lihat adalah sikap hati (Mat. 13:1-23).

   Salah satu tanda murid sejati adalah adanya sikap yang mau diajar dan mau merendahkan diri (Yes. 66:2). Merendahkan diri bukanlah suatu kelemahan, melainkan sebuah keberanian. Orang yang hidupnya benar berpusat kepada Allah akan memiliki sikap yang berani untuk merendahan diri.

  1. Membentuk sebuah kecakapan kompetensi.

   Kecakapan adalah keterampilan yang diasah secara intensional, kemampuan yang dilatih ditumbuhkan, baik dalam hidup sehari-hari maupun dalam pelayanan. Seorang murid memiliki kompetensi yang terus-menerus bertambah.

   Hidup ini terlalu singkat untuk dijalani tanpa suatu kompentensi yang memadai. Ketika orang-orang yang telah dimentor menghadapi situasi sulit, mereka memiliki kapasitas dan cadangan emosi untuk menanggapi masalah dengan bijak, tidak reaktif. Melakukan mentoring yang holistik berarti membimbing orang untuk mengasah keterampilan-keterampilan yang demikian, tidak hanya dalam pelayanan, tetapi juga dalam keseharian hidup mereka.

  1. Memiliki sebuah kuasa.

   Kuasa itu milik Tuhan, sebuah atribut ilahi. Namun, dalam hidup manusia, memiliki kuasa adalah sebuah bonus. Sayangnya, kecenderungan manusia yang berdosa adalah mencoba mengambil alih kuasa itu dengan kesombongannya atau tidak mengakui bahwa itu milik Tuhan. Karena memiliki kuasa itu sangat memabukkan, Allah pun memagarinya dengan kasih.

   Ketika kita lebih terpikat pada kuasa daripada kasih, kita sesungguhnya sedang kehilangan fokus. Sebab itu, kita perlu sungguh-sungguh tinggal diam dalam hadirat Allah setiap hari dan memberi diri dibimbing agar dapat menerima dan melepaskan kuasa dengan penuh kasih.

Nilai Inti Seorang Mentoring

   Memiliki satu set nilai-nilai inti yang baik sangatlah penting. Ketika dirancang dengan seksama, disampaikan, dan ditetapkan dengan jelas, nilai-nilai inti merupakan sebuah modal berharga bagi setiap pribadi. Nilai-nillai tersebut membedakan kita dari yang lain. Dalam pementoran kita harus selalu menegaskan tiga nilai inti kepada semua yang akan dimentor, yaitu: Grace (anugerah), Growth (pertumbuhan), dan Godliness (kesalehan). Apa yang saya maksud dengan anugerah, pertumbuhan, dan kesalehan?

Anugerah sebagai sebuah nilai inti.

   Anugerah menyatakan apa yang penting dan yang menjadi natur Allah. Dia memandang kita sebagai yang dikasihi dan menyediakan anugerah-Nya yang tak berkesudahan kepada kita yang sesungguhnya tidak layak. Tindakan terbesar Allah dalam menyatakan anugerah-Nya adalah mengutus Yesus mati bagi kita di atas salib. Tindakan itu menjadikan kita sebagai penerima terbesar anugerah-Nya.

   Allah ingin kita menjadi para penerima anugerah dan para pemberi anugerah. Sebagai para penerima anugerah, kita menikmati sukacita karena anugerah Allah bagi kita. Sebagai para pemberi anugerah, kita melakukan “kebaikan-kebaikan tanpa pamrih” bagi orang lain sekalipun mereka tidak pantas mendapatkannya. Tanpa kedua hal ini, kita hanya menjadi penerima yang tidak tahu bersyukur atas anugerah Allah bagi kita. Membimbing orang untuk hidup dalam semangat anugerah akan menolong mereka bertumbuh dalam keserupaan dengan Kristus.

Pertumbuhan sebagai sebuah nilai inti.

   Anugerah sejati tidak berarti memanjakan. Memang yang namanya anugerah itu seringkali sulit dipahami karena diberikan kepada orang yang tidak pantas menerimanya. Namun, anugerah sejati membangkitkan tanggung jawab untuk bertumbuh. Bangkitnya tanggung jawab ini merupakan sebuah proses. Di dalam proses tersebut, kita memikirkan kembali pengalaman-pengalaman dan kesalahan-kesalahan kita supaya kita dapat memperbaiki sisi lemah kita. Pertumbuhan adalah sebuah aspek yang harus ada dalam kehidupan kita.

   Semua makhluk hidup bertumbuh. Pertumbuhan terjadi ketika kita mengijinkan orang lain memberi masukan yang jujur tentang hidup kita. Pertumbuhan berarti mengembangkan dan mendewasakan diri kita. Kita harus banyak bertekun agar dapat bertumbuh di dalam iman dan karakter kita. Ketekunan akan membuat kita hidup efektif dan berbuah dalam pengenalan yang benar akan Tuhan kita (II Pet. 1:4, 8).

Kesalehan sebagai sebuah nilai inti.

   Yang terakhir, saat kita hidup dalam anugerah, kita akan bertumbuh dalam kesalehan. Tanda utama pertumbuhan seorang Kristen yang sejati ialah kesalehan. Pada dasarnya kesalehan berarti memperhitungkan Tuhan dalam hidup kita, mengarahkan setiap aspek untuk berfokus kepada Tuhan. Ini adalah proses pengudusan yang terus-menerus berlangsung melalui karya Roh Kudus. Kesalehan tidak datang otomatis. Perlu kerja keras dan latihan.

   Kita tidak semata-mata mencoba untuk hidup saleh; kita melatih diri untuk hidup saleh ( I Tim. 4:7). Kita melepaskan keinginan daging dalam diri kita dan mengenakan buah-buah Roh. Kita bukan lagi hamba dosa tetapi hamba kebenaran. Kepuasan terbesar dalam perjalanan hidup kita adalah ketika seseorang berkata kepada kita, “Saya dapat melihat kemuliaan Sang Raja dalam hidupmu.” Para mentor yang bijaksana menanamkan nilai-nilai berharga yang selama ini telah menjadi pedoman bagi hidup mereka sebagai mentor.

Pdt. Kennedi Sihotang, M.Th.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *