NILAI
Cinta Tuhan, Rendah Hati, Jujur dan Rajin
JABAR 3B
Bersatu - Berhasil - Berdampak

PERJALANAN ROHANI SEORANG MENTOR

 

“Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul.” (Lukas 6:12-13).

 

   Menjadi seorang mentor terkadang bukanlah sebuah pilihan kita sendiri, tetapi terkadang itu merupakan panggilan Allah buat kita. Alkitab dengan jelas mengatakan di dalam Lukas 6:12-13, bahwa ada banyak murid dan “dari antara mereka”, Yesus hanya memilih 12 orang sebagai para rasul-Nya. Dalam I Korintus 12:7, juga menjelaskan bahwa Roh Tuhan memberikan karunia ke tiap-tiap orang, sehingga dapat melayani sesuai dengan karunia yang diberikan Tuhan kepadanya. Terkadang kita menjadi seorang mentor bukanlah pilihan kita, bukan juga karena kita yang paling baik atau yang paling berhasil dari yang lain, tetapi karena kita diberikan anugerah itu, oleh Tuhan.

 

Memulai dengan Benar

   Titik awal perjalanan dari setiap mentor itu sangat penting, yaitu mengetahui, mendengar, dan mentaati panggilan Tuhan. Hal yang penting untuk diingat adalah bahwa panggilan untuk menjadi seorang mentor bukan tentang seberapa baik atau seberapa mampu kita ini, tetapi tentang bagaimana kita melihat sebagai anugerah Tuhan. Sehingga ketika kita, memberi hidup kita untuk menjadi mentor bagi hidup orang lain, Tuhan pasti menaungi, memperlengkapi, dan memampukan kita. Panggilan menjadi seorang mentor itu sebuah karunia sekaligus juga sebuah tanggung jawab. Mereka yang memahami tantangan seorang mentor dan menanggapi secara positif adalah para mentor yang intuitif (mentor yang berbakat alami). Mereka yang memperoleh keterampilan melalui pelatihan untuk mengembangkan konpetensinya adalah seorang mentor inculcated (mentor yang dilatih). Mentor intuitif adalah seorang mentor visioner yang tidak hanya mampu mengantisipasi masalah, tetapi juga mampu membayangkan kemungkinan. Bukan hanya mengikuti arus, tetapi mereka bersedia untuk merintis lingkungan baru yang belum pernah dijalani. Bukan bersandar pada kemenangan di masa lalu, tetapi sangat tertantang oleh status quo (keadaan yang bertahan). Bukan menyelesaikan untuk jangka pendek, tetapi mereka menetapkan pandangan mereka untuk jangka panjang dan fokus untuk melampaui basis kedua. Mentor yang ditanam adalah mereka yang telah dilatih dan dibina dalam kepemimpinan yang kompeten. Howard Feguson, menuliskan beberapa hal dalam bukunya “Hukum Kepemimpinan Kristen” tentang hal-hal yang harus tetap dilakukan oleh seorang mentor:

a)         Banyak orang yang tidak logis, tidak masuk akal, dan egois; tetaplah mengasihi mereka.

b)         Jika Anda berbuat baik, orang akan menuduh Anda itu egois dan mempunyai motivasi

tersembunyi; tetaplah berbuat baik.

c)         Jika Anda sukses, Anda mendapati teman palsu dan mempunyai musuh sejati; tetaplah sukses.

d)         Kebaikan yang Anda lakukan hari ini akan dilupakan besok; tetaplah berbuat baik.

e)         Kejujuran dan keterus-terangan akan membuat Anda mudah diserang; tetaplah jujur.

f)          Orang yang penuh dengan ide-ide besar dapat ditembak jatuh oleh orang-orang dengan pikiran

picik; tetaplah berpikir yang besar.

g)         Orang-orang mendukung mereka yang tidak diunggulkan, tetapi mengikuti mereka yang di atas;

tetaplah mendukung beberapa mereka yang tidak diunggulkan.

h)         Apa yang telah dibangun bertahun-tahun dapat hancur dalam semalam; tetaplah membangun.

i)          Orang yang benar-benar membutuhkan bantuan, tetapi mungkin menyerang Anda jika Anda

mencoba untuk membantu mereka; tetaplah membantu mereka.

j)          Berikanlah pada dunia apa yang terbaik yang Anda miliki dan Anda mungkin mendapatkan hinaan; tetaplah memberikan pada dunia apa yang terbaik yang Anda miliki.

Jadi, cara terbaik untuk memulai adalah seorang mentor harus berangkat dari titik awal, yaitu dengan cara mengetahui, mendengar, dan mentaati bahwa Anda dipanggil oleh Tuhan sebagai mentor untuk orang lain. Itu adalah anugerah Tuhan buat Anda!

Kepuasan Rohani

   Menolak bantuan kedua. Ketidak-cukupan adalah hal yang membutakan kita terhadap hal baik dan benar yang telah ada di depan kita selama ini. Mencari bantuan kedua dan mengejar yang lebih baik dan bukan merasa cukup dengan apa yang Tuhan telah berikan kepada kita, juga dapat menjadi penyebab kejatuhan kita, jika kita tidak berhati-hati, maka akhirnya kita kehilangan apa yang mungkin telah Tuhan tempatkan bagi kita. Ada dua orang mentor, yang mana keduanya adalah seorang mentor dengan panggilan kuat dari Tuhan atas hidup mereka. Keduanya memiliki visi yang jelas untuk pelayanan mereka dan diurapi Tuhan. Namun, salah satu mentor ini, berakhir dalam tragedi dan yang satunya dalam kemenangan. Satunya tidak merasa cukup dengan keadaannya dan ingin lebih lagi, dan berusaha mencapai banyak hal dengan tangannya sendiri; yang lainnya belajar memiliki kepuasan rohani dan tidak mencari pertolongan pada pihak kedua, mempercayakan Tuhan untuk bekerja pada waktu-Nya. Kedua mentor yang saya sebutkan itu adalah dua raja, yaitu Saul dan Daud (I Sam. 23). Kegagalan Raja Saul dalam jabatannya, karena kegagalan dalam hubungannya dengan Tuhan. Sebaliknya, Daud, digambarkan sebagai “seorang yang berkenan di hati Tuhan” (Kis. 13:22). Kisah Daud, menyatakan bukan saja tentang apakah dia seorang mentor yang saleh, tetapi juga tentang apa yang tidak boleh dilakukannya. Daud memilih menolak pertolongan kedua karena kepuasannya bersandar pada Tuhan; ia tidak mengejar rencananya sendiri tetapi hati Allah. Inilah kepuasan rohani dari seorang mentor.

Mengetahui Rencana Allah

   Daud berusaha mengetahui rencana Allah. Alkitab memberitahukan kita, setidaknya lima kali, bahwa “Daud meminta petunjuk dari Tuhan” (I Sam. 23:4; 30:8; 2 Sam. 2:1-5; 5:19, 23). Ini menunjukkan gaya hidup yang intensional dan kebiasaan yang Daud telah tanamkan di dalam hidupnya, ia adalah seorang yang mendengarkan secara teratur tentang apa yang Tuhan katakan pada dirinya. Seorang mentor yang saleh akan berkomitmen mencari tahu apakah rencana Allah, dan membuat rencana Allah itu sebagai rencananya. Itulah rahasia kepuasan rohani. Dalam Yohanes 12:26, Yesus menggambarkan mentor yang selalu berada sesuai dengan keinganan Tuannya: “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.” Mereka yang hatinya untuk Tuhan akan melihat diri mereka sendiri, tidak dalam otoritas, tetapi di bawah otoritas Kristus. Semua mentor akan menghadapi segala macam tuntutan dan harapan. Akibatnya, kita kadang-kadang tergoda untuk hanya mengikuti arus. Namun seringkali, rencana Allah mungkin meminta kita untuk melawan arus. Seorang mentor yang hatinya bagi Tuhan akan menunjukkan ketaatan mutlak dalam melaksanakan rencana sang Tuan, bukan atas rencananya sendiri.

Belajar untuk Menunggu

   Daud belajar untuk menunggu waktu Tuhan yang sempurna dan berdaulat. Daud menolak bantuan kedua untuk menetapkan proses yang dijalaninya. Sejak nabi Samuel mengurapi dia sebagai raja, Daud telah menunggu hampir selama 14 tahun lamanya, hingga akhirnya dia diteguhkan sebagai raja. Saat berusia 30 tahun baru nubuatan dipenuhi. Waktu penantian yang begitu lama untuk standar masa kini. Dalam proses menunggu, Daud secara kejam dikejar oleh Saul. Dua kali, ketika ia dengan kejam diburu sebagai buronan, ada beberapa peluang bagi Daud untuk membunuh pemburunya. Kesempatan pertama, ketika Raja Saul masuk gua (I Sam. 24:3). Kesempatan kedua dicatat dalam I Samuel 26:7. Meskipun kesempatan itu tepat di hadapannya, Daud tidak memanipulasi proses, ia memilih untuk tidak “menyentuh orang yang diurapi Tuhan,” tetapi sebaliknya, mempercayakannya kepada Tuhan. Dia tidak menyelesaikan masalah dalam tangannya sendiri, tidak seperti kebanyakan dari kita, yang sering tergoda untuk “memperbaiki masalah sekarang juga.” Seorang mentor yang mengalami kepuasan rohani akan mengikuti waktu dan mengamati proses dari rencana Tuannya. Allah lebih peduli dengan proses yang dilalui seorang mentor daripada produk (hasilnya) dalam hal apa yang dia lakukan. Jika kita menjadi tidak sabar, kita mungkin berakhir dengan mengorbankan proses-proses yang Allah telah benar-benar tujukan kepada kita untuk dijalani, dalam rangka membentuk kita menjadi pemimpin yang Dia inginkan.

Sumber Kedaulatan

   Daud belajar bahwa kekuatan sejati berasal dari Allah sendiri. Ketika menghadapi prajurit Goliat yang tinggi besar dalam pertempuran, laki-laki remaja itu sangat menyadari kelemahan fisiknya, tidak berdaya, dan tidak mampu. Tetapi dia juga tahu bahwa pertempuran tidak akan dimenangkan oleh daging. Sementara Goliat mungkin memiliki pedang terbaik dan baju besi, sedangkan Daud adalah laki-laki yang tidak terlatih yang memegang kekuatan sejati, sebab “di tangan Tuhanlah pertempuran dan Ia pun menyerahkan kamu (Goliat) ke dalam tangan kami” (I Sam. 17:45-49). Daud mengetahui sumber sejati kekuatannya adalah Allahnya, dan bukan dirinya sendiri. Saul, sebaliknya, menggantungkan sepenuhnya pada dirinya sendiri. Allah benar-benar keluar dari segala kehidupan Saul. Dalam mempercayai Allah yang menyediakan kekuatannya, Daud mengerti dimana sumber kekuatannya itu, itu sebabnya mengapa ia mampu menulis dalam Mazmur 28:7 “TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.” Allahnya Daud itu, bukan hanya Tuhan yang memberikan kekuatan, tetapi Tuhan itu kekuatan kita.

Pilihan: Menjadi Saul atau Daud

   Sebagai pemimpin, kita harus berhati-hati agar tidak jatuh ke dalam penipuan “nanti dan maka,” seperti yang Saul lakukan. Ini adalah pemikiran yang berbahaya yang dapat menyebabkan kejatuhan kita.

  • u  “Nanti waktu saya mendapatkan fasilitas yang lebih baru dan yang lebih besar untuk pelayanan, maka saya akan puas …”
  • u  “Nanti waktu saya memiliki anggaran pelayanan yang lebih besar untuk bekerja, maka saya akan puas …”
  • u  “Nanti kalau saya mendapatkan tim pelayanan yang lebih besar yang bisa mendukung saya, maka saya akan puas …”
  • Seorang mentor tahu sumber sejati dari kepuasan rohaninya dan itu tidak terletak pada harta benda yang dimilikinya, itu tidak terletak pada posisinya, itu tidak terletak pada kekuasaannya atau martabatnya. Ketika kita membiarkan Tuhan yang memimpin dan memampukan kita, kita tidak perlu membuat rencana kita sendiri, atau memanipulasi proses, atau memproduksi kekuatan kita sendiri. Sebaliknya Tuhanlah yang akan memampukan kita untuk mengalahkan raksasa-raksasa, seperti Dia memampukan Daud.

Wilayah Mentoring

   Mentoring sejati itu bersifat menyeluruh (holistik) dan menyentuh kedalaman hidup. Di dalam mentoring, perhatian perlu diberikan terhadap tiga struktur dasar yang sering tidak terlihat dalam kehidupan seseorang. Wilayah-wilayah di dalam diri ini sering tidak diperhatikan karena bersifat sangat pribadi. Kerap hal-hal ini memang sengaja tidak ditunjukkan kepada orang lain. Akibatnya, wilayah-wilayah pribadi ini mudah terabaikan. Kalaupun dievaluasi, sifatnya hanya sepintas lalu. Saat ini terjadi, sesungguhnya mulai ada celah-celah berbahaya dalam hidup kita. Apabila kita tidak berhati-hati, celah-celah ini dapat dipakai iblis untuk menghancurkan kredibilitas dan aktivitas para pelayan Allah. Sebab itu, meski banyak perhatian yang diberikan untuk membangun kecakapan dalam proses mentoring, kita harus tetap memberi penekanan pada wilayah-wilayah kehidupan pribadi. Mentoring yang sejati itu harus bersifat menyeluruh dan menyentuh kedalaman hidup. Kita perlu memberi perhatian kepada tiga wilayah pribadi dalam kehidupan orang yang dibimbing. Mentor yang bijaksana menolong orang untuk membentuk hidup yang beribadah, memperdalam kehidupan berkeluarga, dan memberdayakan hidupnya agar selalu bertumbuh.

 

1.  Membangun hidup yang beribadah

   Saat teduh tidak otomatis menjadi lebih mudah ketika usia kita bertambah. Faktanya, malah lebih sulit. Mengapa? Karena kita bisa membaca ayat Alkitab dengan cepat dan mendapatkan satu atau dua pemikiran tentang ayat itu tanpa perlu banyak merenungkan ataupun memiliki kedekatan hubungan dengan Tuhan. Orang dapat memiliki rutinitas dan disiplin tanpa perjumpaan dengan Tuhan dan kekaguman akan Dia. Orang dapat membaca Firman Allah tetapi kehilangan Allah yang berfirman. Orang dapat melayani Allah tanpa hati yang sungguh-sungguh mengasihi-Nya. Kehidupan dan pelayanan seorang Kristen dapat dengan mudah dipoles agar terlihat baik. Tetapi Allah memanggil kita untuk menjadi orang yang hidupnya dapat dipercaya, tidak berpura-pura. J.I Packer berkata, “Teologi yang benar selalu berujung pada doksologi!” Artinya, teologi yang benar selalu membawa orang memuji keagungan Allah! Kita harus membimbing orang untuk memiliki kehidupan yang beribadah, kehidupan yang sungguh-sungguh mengasihi Allah.

2.  Memperkuat hidup dalam keluarga

   Penampilan bisa memperdaya. Di balik penampilan seorang pemimpin ada kehidupannya di dalam keluarga. Seseorang bisa saja memiliki kehidupan ganda – menjadi seperti malaikat dalam gereja tetapi menjadi seperti monster dalam rumah! Kehidupan yang demikian membuat kita tidak dapat bertumbuh secara holistik. Yang tumbuh hanyalah kemunafikan. Kebohongan mengendalikan hidup kita. Kemungkinan masalah lain yang dihadapi dalam keluarga adalah memiliki pasangan yang tidak mendukung, yang menghalangi suami atau istrinya melayani dan memenuhi panggilan Tuhan dalam hidupnya. Sering ada luka dalam hidup pasangan yang akarnya harus ditemukan dan dibereskan. Situasi semacam ini memang menyedihkan karena pasangan tersebut akan sangat sulit untuk bisa melayani dengan satu hati. Mentoring yang meliputi kehidupan sehari-hari dalam keluarga sangatlah penting.

3.  Memberdayakan hidup untuk bertumbuh

   Orang cenderung tinggal dalam zona nyaman mereka. Yang kerap membuat orang tidak dapat memperbaiki kelemahan mereka adalah rasa takut menghadapi ketidaknyamanan, kesulitan, atau kegagalan. Rasa takut ini dapat menghambat pertumbuhan dalam banyak bidang kehidupan yang penting. Selama seorang pemimpin merasa kondisi yang ada sekarang sudah cukup nyaman, ia dapat berhenti bertumbuh dan hidupnya mulai menjadi tidak efektif. Kita tidak boleh lalai memetakan dalam bidang kehidupan apa saja pertumbuhan itu dibutuhkan. Kita harus menolong orang yang kita bimbing untuk keluar dari zona nyaman mereka. Tempat terbaik untuk bertumbuh selalu berada di luar zona yang nyaman! Mari keluar dari zona nyaman kita. Mari serius bertumbuh dalam semua bidang kehidupan kita. Dan bimbinglah orang lain dengan prinsip yang sama. Lakukanlah mentoring yang holistik dan menyentuh kedalaman hidupnya!

Empat Langkah

   Mentoring bukan sekedar menyemaikan pengetahuan. Mentoring adalah teladan dalam menjalani kehidupan! Mentoring berarti memupuk cara hidup dan kenyakinan. Menunjukkan bagaimana Anda sendiri menjalani kehidupan dan membagikan proses itu dengan orang lain. Mentoring juga meliputi proses menanamkan nilai-nilai dan visi, menciptakan sebuah sistem kepercayaan baru yang memberdayakan hidup. Semua ini membutuhkan waktu. Mentoring melibatkan sebuah proses pertumbuhan yang kompleks. Dan terjadinya pertumbuhan ini tidak saja membutuhkan waktu, tetapi juga keterampilan. Tak heran, banyak orang merasa tidak cukup pantas untuk membimbing orang lain. Meski tak mudah, ada empat langkah sederhana yang dapat menolong kita memulai perjalanan mentoring. Jangan hanya mengambil langkah pertama (menemukan kebenaran), lalu melompat ke langkah keempat (meneruskan kebenaran itu). Jika Anda mengambil jalan pintas yang demikian, mentoring akan menjadi sekedar proses membagikan pengetahuan. Jangan memotong proses yang harus dijalani. Rahasia untuk menyemai cara hidup dan nilai-nilai yang benar terletak pada langkah kedua (menerapkan kebenaran) dan langkah ketiga (menuai manfaat dari kebenaran itu). hanya ketika kita sendiri telah mengalami kebenaran itu, kita dapat membagikannya dengan jujur dan penuh keyakinan. Berikut ada empat langkah dasar untuk mentoring yang efektif:

1.  Menemukan Kebenaran.

   Menemukan sesuatu itu adalah inspirasi kehidupan. Belajar untuk menemukan sesuatu itu adalah perjuangan. Langkah pertama dalam mentoring adalah belajar sesuatu yang baik. Sesuatu yang berharga untuk diteruskan kepada orang lain. Sesuatu yang telah mengubah kehidupan Anda lebih dulu. Untuk bisa meneruskan kebenaran, pertama-tama kita perlu mengetahui kebenaran itu sendiri. Kita berperan sebagai sauh dalam kehidupan kita. Tanpa kebenaran, kita akan terombang-ambing dalam dunia yang membingungkan dan penuh kompromi. Riva Zacharias dengan pemahaman yang dalam menyatakan bahwa kita sesungguhnya hidup dalam dunia yang tak kelihatan, tempat kebenaran merupakan komoditas yang paling berharga. Kebenaran mendasar ini ditemukan di dalam Firman Tuhan (Yoh. 17:17).

2.  Menerapkan Kebenaran

   Pahami baik-baik: Kebenaran tidak mengubah hidup. Kebenaran yang diterapkan, itulah yang dapat mengubah hidup! Yesus berkata bahwa setiap orang yang mendengar perkataan-Nya dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu (Mat. 7:24). Kebenaran dapat memberi pengertian dan bahkan menginspirasi hidup. Tetapi, tanpa tindakan dan ketaatan, kebenaran tidak berkuasa mengubah hidup. Kita tidak boleh meniadakan langkah penerapan dan langsung berusaha meneruskan kebenaran itu. Bila kita mengambil jalan pintas, kita akan menghasilkan sebuah generasi yang dangkal, yang pandai meneruskan apa yang belum berhasil mereka terapkan sendiri.

3.  Menuai Manfaat Kebenaran

   Manfaat dari kebenaran yang kita tetapkan harus terlebih dahulu dialami supaya kebenaran bisa disemaikan dengan autentik. Dengan demikian kita dapat mengajarkan apa yang memang kita praktikkan dalam hidup, dan tidak sampai mengajarkan hal yang tidak pernah kita lakukan sendiri. Howard Hendricks, seorang profesor dari Dallas Theological Seminary pernah berkata: “Apa yang kudengar aku lupa. Apa yang kulihat, aku ingat. Apa yang kulakukan, aku paham. Ketika aku paham, aku berubah.” Ia benar. Apa yang kita lakukan akan membawa pemahaman dan perubahan hidup.

4.  Meneruskan Kebenaran

   Pada akhirnya, yang ingin kita hasilkan dalam mentoring adalah pelipatgandaan kehidupan. Dalam Perjanjian lama, karya Allah yang luar biasa diteruskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ada pelipatgandaan yang terjadi antar generasi.Apabila kita senantiasa menemukan kebenaran, menerapkan kebenaran, dan menuai manfaatnya, kita dapat meneruskan warisan kebenaran dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ingat EMPAT langkah, bukan DUA!

Peran Mentor

   Para mentor, seperti halnya para pendeta, memiliki tiga peran yang sangat penting. Menggembalakan, mengajar, dan memimpin adalah tiga kompetensi yang harus dimiliki dalam panggilan pastoral. Kompetensi yang sama juga harus dimiliki oleh mereka yang berperan sebagai mentor. Para mentor harus melatih diri dalam setiap kompetensi ini agar bisa efektif. Mari kita lihat tiga kompetensi utama ini satu persatu:

1.  Mentor yang Menggembalakan

   Mentor yang menggembalakan mengenal kondisi orang yang dibimbingnya. Ia peka dengan kebutuhan-kebutuhan mereka. Tidak hanya kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan tetapi juga kebutuhan-kebutuhan yang sesungguhnya di balik semua itu. Seperti Rasul Paulus, seorang mentor yang menggembalakan tahu bagaimana menegur mereka yang hidupnya tidak tertib, menghibur mereka yang tawar hati, menolong mereka yang lemah, dan sabar terhadap semua orang (I Tes. 5:14). Ada tiga aspek dalam peran penggembalaan ini: Yang pertama, adalah memperhatikan. Kita membangun hidup orang yang kita bimbing melalui perkataan dan kehadiran kita. Ada pepatah bijak yang mengatakan, orang tidak peduli seberapa banyak kita tahu sampai mereka tahu seberapa banyak kita peduli. Yang kedua, adalah memberi konseling. Konseling membutuhkan beberapa pelatihan dan keterampilan. Dalam memberi konseling, mentor yang bijak akan mencari “akar” masalah dan bukan “ranting-ranting” yang kelihatan dari luar. Yang ketiga, adalah melatih. Melatih di sini termasuk mengarahkan mereka dalam pertumbuhan rohani; memperlengkapi mereka dengan prinsip-prinsip (mengapa melakukan sesuatu) dan keterampilan (bagaimana melakukannya dengan baik) yang dibutuhkan.

2.  Mentor yang Mengajar

   Orang yang berbeda belajar dengan cara yang berbeda. Sebab itu, mentor yang mengajar, perlu menyampaikan pengajarannya dengan cara yang beragam. Sebagian orang belajar paling baik dengan cara mengerjakan tugas bersama. Sebagian lagi belajar paling baik dengan cara membaca dan melakukan perenungan pribadi. Ada pula yang belajar paling baik melalui diskusi dan interaksi. Para mentor yang baik akan mencari cara mengajar yang efektif untuk tiap gaya belajar. Mereka mencari momen-momen yang tepat untuk mengajar, yaitu pada saat orang paling terbuka untuk belajar. Mungkin saja momen terbaik ada ketika sedang bersantai bersama. Atau, ketika krisis sedang melanda. Para mentor yang mengajar paling baik tidak selalu menjadi pemberi jawaban. Sebaliknya, mereka mengajar dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat. Dan bukan saja melontarkan pertanyaan yang tepat, mereka juga membekali orang yang dibimbing dengan prinsip-prinsip Firman Tuhan. Lebih jauh lagi, mereka berusaha menolong orang yang dibimbing itu untuk bisa menggali Firman Tuhan secara mandiri. Meeka tidak memberikan ikan untuk dimakan dalam sehari, tetapi mengajar orang yang dibimbing untuk memancing, sehingga orang itu bisa mencari makan sendiri seumur hidupnya!

3.  Mentor yang Memimpin

   Para mentor yang mampu memimpin itu langka. Mereka tidak sekedar menggembalakan atau mengajar orang. Mereka secara intensional mengarahkan orang pada satu tujuan akhir. Yaitu mengalami transformasi atau perubahan hidup sebagai Kerajaan Allah. Dengan kenyakinan yang kuat, mereka memimpin orang-orang yang dibimbing untuk menjadi pribadi-pribadi yang hidup sesuai dengan panggilan Allah. Mereka tidak hanya berfokus pada orang yang dibimbingnya, tetapi fokus pada Allah. Para mentor yang memimpin mendorong orang bertumbuh dalam pengharapan dan iman. Mereka menatang orang yang dibimbing untuk ambil bagian dalam pekerjaan Allah dengan cara memberikan teladan. Mereka memimpin dengan menunjukkan contoh. Orang yang dibimbing dapat melihat dengan jelas adanya semangat, tujuan hidup, dan perjuangan meraih tujuan tersebut, dalam kehidupan para mentor ini. Inilah para pemimpin visioner yang mau memberi diri membimbing orang lain. Kiranya jumlah orang yang demikian makin bertambah.

By. Pdt. Kennedi Sihotang, M.Th.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *