NILAI
Cinta Tuhan, Rendah Hati, Jujur dan Rajin
JABAR 3B
Bersatu - Berhasil - Berdampak

FINDING THE LOST CHRIST IN CHRISTMAS

Yea! Christmas is coming!

Ini mungkin adalah saat dimana banyak orang memikirkan tentang Yesus lebih dari waktu-waktu sebelumnya: Natal! Lagu-lagu Natal tentang Yesus diputar dan diperdengarkan. Hiasan serta asesoris Natal pun mulai dipajang dan dijual di berbagai pusat perbelanjaan. Gereja-gereja mulai mempercantik diri dan disibukkan dengan latihan serta persiapan Natal yang seringkali menyita banyak hal: tenaga, waktu, dan bahkan uang. Bahkan orang yang biasanya tidak ke gereja pun menjadi “lebih rohani” dengan memanfaatkan kesempatan ini untuk datang kembali ke gereja – walau ini baik juga – serta menghadiri ibadah Natal. Semua ini baik namun kadang tanpa kita sadari, we can even lost Christ in the midsts of celebrating Him in Christmas. Yusuf dan Maria pernah mengalami “kehilangan” Yesus sementara dalam perjalanan mereka pulang setelah merayakan perayaan Paskah (Lukas 2:41-51). Setelah mencari-Nya ke sana kemari selama 3 hari, akhirnya mereka menemukan Yesus di “rumah BapaKu” sedang bertanya-jawab dengan alim ulama. Sama seperti Yusuf dan Maria yang “kehilangan” Yesus, kita pun bisa saja kehilangan Dia sementara kita sibuk merayakan Dia dalam Natal.

Don’t go to the palace! You won’t find the King there!

Natal dan kemeriahan sepertinya merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Perayaan yang (kadangkala) mewah pun sepertinya sudah menjadi bagian yang sulit terpisahkan dalam perayaan Natal itu sendiri. Apalagi dengan adanya potongan harga yang cukup besar di banyak tempat – walaupun kebanyakan harga sudah dinaikkan beberapa bulan sebelum Natal dan diturunkan kembali pada waktu bulan Natal – yang begitu menggoda dan  tidak mungkin dilewatkan begitu saja. Tidak heran Christmas season seringkali menjadi money-making-season for retailers dan sekaligus juga money-spending-season bagi kebanyakan orang, terutama yang terpengaruh atau bahkan menjalani gaya hidup hedonisme dimana kenikmatan dan kesenangan menjadi tujuan hidup. Orang Majus bertanya kepada orang-orang di Yerusalem,” Dimana Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Matius 2: 2). Mereka berpikir (atau mungkin begitu yakin) bahwa seorang raja pastilah lahirnya di istana! Namun pada kenyataannya Raja yang satu ini sungguh mengejutkan! Istana yang identik dengan kemewahan dan kemegahan justru bukan tempat dimana Ia ada dan dilahirkan. Dia tidak ditemukan dalam kemewahan dan kemegahan istana.

 

Yesus ternyata ada dan dilahirkan ditempat yang secara manusia sangat tidak diperhitungkan: di kampung kecil Bethlehem, di sebuah kandang domba dan bayi Yesus di baringkan diatas palungan! What a place for a King to be born! Kalau kita membaca dalam Alkitab baik Perjanjian Lama dan Baru, hati Tuhan selalu tertarik kepada orang-orang yang lemah dan tidak berdaya, kelompok terpinggirkan dan yang terlupakan yang seringkali dipandang sebelah mata. Dia bahkan begitu membela manakala hak-hak mereka dirampas dan kondisi mereka dilupakan. Ini bukan tentang Liberation Theology. Ini tentang hati Tuhan yang memperhatikan dan tidak melupakan mereka yang miskin, lemah, dipandang rendah dan hina oleh dunia sekitar (Lukas 4:18-19). Orang Majus tidak menemukan Yesus di istana raja Herodes yang mewah dan megah. Itu sebabnya mereka harus meninggalkan istana raja dan pergi ke Bethlehem. Itu sebabnya mereka harus meninggalkan istana kemewahan dan berjalan masuk menuju kandang kesederhanaan dan kehinaan untuk menemukan Yesus, Sang Raja!

Finding Christ in the most unlikely place

Walaupun Nabi Mikha dalam Perjanjian Lama telah menubuatkan tentang kota Bethlehem (Mikha 5:1), namun sepertinya, ahli-ahli Taurat tidak benar-benar berpikir atau menyangka bahwa itu sungguh akan terjadi sampai orang Majus menanyakan kelahiran Raja Yahudi dengan tanda bintang yang menunjukkan jalan bagi mereka. Bethlehem? No way! Bethlehem was the most unlikely place where the King would be born (Bethlehem adalah tempat yang sepertinya paling tidak mungkin seorang Raja akan dilahirkan). Mungkin inilah yang ada dalam benak mereka. Apalagi pada waktu itu, Bethlehem hanyalah seperti kampung kecil yang mulai terlupakan dari hingar bingar politik dan ekonomi waktu itu. Namun justru tempat yang small and insignificance ini telah dipilih dan ditetapkan Allah menjadi tempat dimana Yesus ada dan dilahirkan (Lukas 2: 15-16).

Tidak berhenti di situ, Lukas bahkan mencatat bahwa bayi Yesus dilahirkan di sebuah kandang dan dibaringkan di sebuah palungan seperti yang malaikat katakan kepada para gembala (Lukas 2:10-12). Seorang raja Yahudi lahir di kampung kecil, Bethlehem, di sebuah kandang domba dan dibaringkan di atas palungan? Tidak mungkin! Tapi itulah kenyataannya. Justru Kristus Yesus ditemukan dalam tempat dan kondisi yang jauh dari istilah kemewahan dan kemegahan. Tempat yang bahkan tidak bisa disamakan dengan kesederhanaan. Nevertheless, Christ Jesus was found there, in the most unlikely place!

Finding Christ among the most unlikely people

Pernahkah kita main petak umpet atau kucing kucingan dan ternyata tempat yang kita pikir menjadi tempat bersembunyi orang yang kita cari ternyata tidak ada di sana? Apakah Allah main putak umpet dengan kita sehingga kita berpikir Dia tidak ada di sana dan nyatanya Dia ada di sana atau sebaliknya? Tidak juga. Kita saja yang (mungkin) seringkali terlalu buta dan tuli serta kasih yang dingin sehingga tidak menyangka bahwa ternyata Yesus dilahirkan di Bethlehem, apalagi dikandang domba! Bahkan kita pun tidak menyangka kalau berita tentang kelahiran-Nya pun diberitakan oleh malaikat-Nya kepada para gembala, kelompok orang yang dipandang sebelah mata. Bagaimana mungkin berita yang begitu penting dan besar justru Allah sampaikan kepada orang-orang yang tidak (dianggap) penting? Yesus sekali lagi mengagetkan kita dengan menyatakan bahwa Diapun bukan hanya ditemukan di tempat yang tidak disangka namun juga diantara orang-orang yang juga tidak disangka-sangka: para gembala!

Selama hidupnya Yesus (sepertinya) menghabiskan lebih banyak waktu pelayanan-Nya dengan orang-orang yang seringkali dicibir oleh mereka yang (merasa) religious dan rohani sebagai “orang-orang berdosa,” yang dianggap tidak tahu banyak tentang Firman Tuhan dan tidak punya hak dalam Kerajaan Allah (Yohanes 9:34). Tidak heran kalau Yesus mendapat julukan dari lawan-lawanNya sebagai a friend of sinners (sahabat orang berdosa). Yesus juga seringkali memutarbalikkan pandangan dunia dengan pengajaran dan nilai-nilai yang diajarkan-Nya. Baca saja kotbah-Nya di bukit (Matius 5) dan perumpamaan tentang dua orang anak (Matius 21:31). Kita mungkin saja akan terperanjat atau bahkan pingsan kalau kita bersama orang banyak dan mendengar secara langsung bahwa sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Bagaimana mungkin Dia mengatakan ini? Itu Yesus Kristus yang bisa ditemukan diantara orang-orang yang tidak semestinya Dia berada.

Christ (mas) and the unlikely

Beberapa waktu yang lalu dosen misi saya, Dr. Edward Pousson yang memiliki penampilan nyentrik karena sering ngajar di kelas (hanya) memakai kaos oblong dan sandal jepit berkata kepada kami yang hadir di kelasnya,” Beranikah kita mengundang orang-orang jalanan, pengemis dan orang-orang miskin untuk makan bersama di rumah di malam Natal?” Pertanyaan itu seperti petir menyambar kami di siang bolong!  Jujur kami tidak pernah berpikir tentang hal itu apalagi untuk melakukannya. Namun pertanyaan tersebut telah menantang kami dan membuat kami berpikir untuk merayakan Natal dengan cara yang sangat berbeda yang mungkin saja akan membuat kita tidak nyaman karena harus keluar dari kemeriahan, kemewahan, dan harus memasuki kandang kesederhanaan bersama dengan orang-orang yang sederhana.

Mungkin sekaranglah saatnya untuk kita merenungkan pertanyaan dosen misi saya tadi. Mungkin sekaranglah saatnya untuk kita merayakan Natal in the unlikely place and with the unlikely people because Christ Jesus was often found in the unlikely place among the unlikely people. Kiranya Tuhan menolong kita semua untuk kemuliaanNya. Have a fruitful and blessed Christmas to you all.

 

Pdt. Yoel Sukardi, M.Div.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *