NILAI
Cinta Tuhan, Rendah Hati, Jujur dan Rajin
JABAR 3B
Bersatu - Berhasil - Berdampak

BERGAUL DENGAN ALLAH

Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang Sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. Kehidupan pada zaman Nuh tidak jauh beda dengan kehidupan kita di akhir zaman ini: moral manusia sangat merosot, kejahatan merajalela di mana-mana, sampai disebutkan bahwa Tuhan sangat marah melihat dosa manusia saat itu. “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.” (Kejadian 6:5-6). Dikatakan bahwa: “…bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.” (Kejadian 6:11-12). Di ayat tersebut kata ‘rusak’ bahkan ditulis tiga kali, menunjukkan bahwa bumi pada zaman Nuh benar-benar menunjukkan kerusakan yang luar biasa, baik secara moral maupun kerohanian. Namun hal ini tidak berlaku bagi Nuh. Dia tetap mampu menjaga kesucian hidupnya ditengah-tengah kehidupan manusia yang menyimpang dari jalan-jalan Allah. Nuh membuat pilihan hidup yaitu bergaul dengan Allah, suatu kualitas atau standar hidup yang seharusnya dimiliki oleh setiap anak Tuhan. Kata “hidup bergaul” dalam bahasa Ibrani memakai kata halak, makna harfiahnya adalah berjalan dengan Allah terus menerus. Bergaul dengan Allah tidak diartikan saat kita hanya berada di ruang doa atau sedang beribadah, merenungkan firman Tuhan; melainkan di mana pun juga. Jadi bergaul akrab dengan Allah, hal ini menunjuk kepada sebuah hubungan yang sangat rahasia, sebuah persekutuan yang sangat dekat dengan Allah, berjalan seolah-olah di sisi Tuhan. Pada waktu berjalan bersama seseorang, maka hal yang paling penting adalah arahnya sama. Kalau arahnya tidak sama, maka kita tidak bisa berjalan bersama. Demikian juga halnya dengan berjalan bersama Tuhan. Berjalan bersama Tuhan berarti sejalan dengan Allah. Kita sedang berjalan di dalam arah yang sama dengan arahnya Tuhan. Jika
kita mengatakan bahwa kita berjalan bersama Allah namun tidak sejalan dengan Allah, maka kita sedang jalan sendirian. Kita pergi kemana Allah pergi, kita melakukan apa yang Allah lakukan. Bukan
sebaliknya, kalau kita tidak pergi ke mana Allah pergi dan melakukan apa yang Allah tidak kerjakan, itu bukan bergaul dengan Allah. Salah satu isi Doa Bapa Kami, “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. (Matius 6:10). Apa artinya, “Dibumi, di keluarga kita, di pekerjaan kita, di pelayanan kita, dikeuangan kita, di waktu kita, di hidup kita seperti “kehendak-Mu” disorga.” Kita tidak mengatur keluarga, pelayanan, keuangan, waktu, hidup kita seperti yang kita ingini. Dalam segala hal, kita bertanya kepada Tuhan atau melakukan sesuai dengan firman-Nya. Kita tidak mendahului sebelum Tuhan menyatakan kepada kita atau yang jelas-jelas sudah bertentangan dengan firman Tuhan. Inilah orang yang bergaul karib dengan Tuhan yang benar. Terkadang kita melihat bahwa jalan menurut dunia ini lebih mudah dan ringan, sedangkan jalan-Nya Tuhan kelihatannya sulit. Kalau berbohong, lebih mudah daripada berbicara jujur. Berbuat curang lebih menyelesaikan masalah dibandingkan jujur. Marah, membalas dendam lebih memuaskan dibandingkan mengasihi. Mengejar uang kelihatannya lebih kongkrit dibandingkan mengejar harta yang kekal. Tidak melayani kelihatannya lebih enak daripada melayani. Intinya bahwa berada di jalannya Tuhan itu nampaknya sulit, sedangkan berada di jalan dunia ini lebih mudah dan alamiah. Seperti inilah kebohongan yang ditawarkan oleh dosa. Betulkah berbohong itu akan menyelesaikan masalah dengan mudah? Berbohong hanya menyelesaikan masalah sesaat saja. Betulkah berbuat curang akan menyelesaikan masalah? Itu pun hanya sesaat. Ada seorang pemuda sedang dirundung dengan banyak masalah. Ia berjalan menuju hutan, untuk sekedar menjauhkan diri dari kebisingan kota dan pekerjaannya. Di tengah hutan, pemuda tersebut melihat seorang laki-laki tua yang sedang memetik sayuran di pekarangan rumahnya. Orang tua itu melihat wajah pemuda tersebut, dan tahu bahwa pemuda itu sedang dirundung masalah. Orang tua itu pun mengundang dengan hati-hati dan ramah, meminta ia bercerita tentang masalahnya. Setelah sekian lama mendengar cerita pemuda tersebut, orang tua itu pun mengerti, ternyata memang masalah yang dihadapi si pemuda cukup besar. Lalu orang tua itu pun mengambil segenggam garam, dan mencampurkannya ke dalam air putih dalam gelas, lalu meminta pemuda tersebut untuk merasakannya. Si pemuda merasa enggan, karena dia tahu rasanya pasti akan tidak enak. Tetapi orang tua itu terus berkata dengan tersenyum, “Rasakanlah dulu, sedikit saja tidak apa-apa. Merasa tidak enak, pemuda itu pun, mencicipinya meskipun beberapa tetes.” Raut mukanya seketika itu berubah sambil menggerakkan lidahnya berulang-ulang dan bergidik, karena rasanya benar-benar tidak enak, pahit…”Pahit sekali”, kata pemuda itu. Orang tua itu tersenyum. Lalu ia mengajak pemuda tersebut berjalan keluar rumahnya menuju ke sebuah telaga (danau) yang jernih airnya. Ia mengambil segenggam garam lagi dan menebarkannya ke telaga itu. Dengan sepotong kayu dia mengaduk telaga itu dengan tanpa menyentuh dasar telaga tersebut, sehingga air telaga tetap jernih. Sekali lagi dia meminta si pemuda tersebut untuk merasakan air dari telaga itu yang sudah ditaburkan garam. Si pemuda itu meminumnya dengan tangan, dia kemudian meminumnya lagi berulang-ulang. “Wow segar sekali airnya”, kata si pemuda tersebut. Orang tua itu berkata, “Nak pahitnya kehidupan itu, seperti segenggam garam, tak lebih dan tak kurang, jumlahnya dan rasa pahitnya itu sama, dan memang akan tetap sama. Tetapi, garam ini sangat bergantung dengan wadah yang dimilikinya. Jika wadahnya kecil, maka rasa pahit dari garam tersebut akan sangat terasa, semakin kecil wadahnya semakin pahit rasanya. Sebaliknya jika wadahnya luas seluas telaga, maka garam juga tidak akan terasa semakin luas wadahnya, maka semakin tidak kelihatan dan semakin tidak terasa pengaruh garam tersebut dalam rasa air.

Alkitab menulis bahwa Nuh adalah seorang yang benar dan tidak tercela di antara orang-orang sezamannya (Kejadian 6:9); ini berarti Nuh berani melawan ‘arus dunia’, sekalipun teman-teman dan lingkungan di sekitarnya tidak mendukung dan malah mencemoohnya. Firman Tuhan berkata, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2). Nuh berani untuk tidak serupa dengan dunia dengan konsekuensi dibenci dan dikucilkan oleh orang-orang sezamannya. Nuh senantiasa memiliki hubungan yang karib dengan Tuhan, sehingga Tuhan pun memberitahukan rahasia-Nya. Nuh juga taat ketika Tuhan memerintahkan dia untuk membuat bahtera, meski menurut manusia tidak masuk akal.

Pdt. Edi Gunawan, M.Th

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *