NILAI
Cinta Tuhan, Rendah Hati, Jujur dan Rajin
JABAR 3B
Bersatu - Berhasil - Berdampak

MENTORING

Dalam konteks bergereja, mentoring menjadi sebuah terminologi yang sangat mudah dikatakan namun sangat sulit dilaksanakan. Tidak mudah bagi seseorang untuk mendapatkan mentor yang tepat atau mementor orang yang tepat. Memerlukan sebuah komitmen yang besar untuk seseorang dapat mementor dan dimentor. Selain itu, komitmen serta keterbukaan sangat diperlukan agar pementoran dapat berjalan dengan baik. Pementoran yang paling efektif adalah belajar dari Yesus langsung. Ia mampu mementor 12 murid hanya dalam waktu 3 tahun dan akibatnya kita menerima sebuah warisan yang sangat berharga berupa nilai-nilai dari pengajaran-Nya yang tidak pernah usang. Bagaimana Yesus
melakukan pementoran? Mari kita coba melihat dari Injil Yohanes 17:1-26. Dalam doa-Nya sebelum disalibkan, Yesus memberikan semacam laporan kerja kepada Bapa. Ia memberikan pertanggungjawaban atas apa yang Ia sudah lakukan selama di muka bumi ini. Aku telah mempermuliakan Engkau di Bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya (ayat 4). Lalu Ia melanjutkan dengan pemaparan tentang bagaimana Ia melakukan tugas tersebut. Ada 7 pekerjaan utama yang Yesus ajarkan kepada kita melalui doa-Nya ini.

AKU TELAH MENYATAKAN NAMA-MU KEPADA SEMUA ORANG (Ayat 6)
Atas nama siapa kita hidup, bekerja, melayani? Kepada siapa kita bertanggung jawab? Ini merupakan pertanyaan penting yang harus dijawab dengan pemahaman yang benar. Kita tidak sedang bekerja untuk nama organisasi, walaupun kita harus ada dalam sebuah payung organisasi. Kita juga tidak sedang membangun nama besar kita sendiri. Kita sedang melayani dan bekerja dengan membawa nama Tuhan. Seperti seorang yang bekerja untuk perusahaan ABCD misalnya, kita membawa semua nilai-nilai perusahaan dan tujuan serta misi perusahaan tersebut. Kita hidup, bertindak, memutuskan, berkarakter sesuai dengan nilai-nilainya. Sehingga setiap orang yang melihat dan mengenal kita, mereka tahu bahwa kita sedang membawa nama perusahaan tersebut. Hal ini sangat penting sebagai identitas kita sebagai mentor yang dapat dipercayai.

MENYAMPAIKAN SEGALA FIRMAN YANG TELAH DITERIMA KEPADA MEREKA DAN MEREKA MENERIMANYA (Ayat 8)
Seringkali kita mendengar kalimat, “Khotbahkan apa yang kamu hidupi dan hidupi apa yang kamu khotbahkan.” Seorang mentor adalah seorang yang sudah mengalami perjalanan dan pengalaman yang lebih panjang dan banyak dalam kehidupannya. Inilah yang menjadi modal dasar seseorang mementor mentee-nya. Keteladanan hidup adalah kata kunci untuk dapat dipercayai oleh orang lain. Dan keteladanan hanya datang ketika seseorang menghidupi apa yang dia percayai dan ajarkan. Kuasa datang ketika kita hidup dalam kebenaran, bukan hanya sekadar tahu kebenaran. Inilah yang akan membuat kita menjadi efektif dalam pementoran.

AKU BERDOA UNTUK MEREKA (Ayat 9)
Semua orang mengerti kata DOA, namun tidak semua orang berdoa. Banyak orang berdoa hanya untuk kepentingannya sendiri. Namun Yesus mengajarkan kita bahwa kita juga harus berdoa untuk mereka yang kita mentor. Untuk ini juga kita perlu berkomitmen. Sama seperti kita mendoakan anak-anak kita, demikian kita juga mendoakan para mentee kita. Sebab dalam doa kita mendapatkan gambaran akan menjadi seperti apa mereka nantinya. Kita juga akan diyakinkan bahwa mereka ada dalam perlindungan dan arahan dari Tuhan secara spiritual.

AKU MEMELIHARA MEREKA DALAM NAMA-MU (Ayat 12)
Memelihara bukan saja hanya sebatas memberi makan, tetapi mengawasi, menjaga, memastikan bahwa mereka ada dalam kondisi baik dan sehat, menyediakan, merawat, mengasihi dan lain sebagainya. Memelihara dalam nama Tuhan adalah bagian pementoran. Bagaimana kita hidup sesuai dengan keyakinan kita kepada Tuhan berdasarkan nama-Nya, demikian juga kita mengajarkan kehidupan kepada mentee kita berdasarkan nama Tuhan. Dia dikenal dengan nama Yehova Jireh, Allah yang mencukupi. Setiap mentee harus mengalami kehidupan yang dicukupi oleh Tuhan. Bagaimana sang mentor hidup, demikianlah sang mentee akan hidup. Ketika kita mengalami kehidupan yang dicukupi Allah, maka mentee juga akan mengalami hal yang sama walau mungkin dalam peristiwa yang berbeda. Demikian juga dengan nama Yehova Rapha, Allah yang menyembuhkan telah menjadi kenyataan yang dialami oleh mentor. Demikian juga mentee akan melihat dan belajar bahwa nama Yehova Rapha itulah yang menjadi pegangan mereka ketika menghadapi goncangan sakit penyakit. Demikian juga dengan kuasa dari nama Tuhan yang lainnya akan berlaku dalam kehidupan mentor dan mentee.

AKU TELAH MENGUTUS MEREKA KE DALAM DUNIA (Ayat 18)
Sama seperti Bapa mengutus Yesus ke dalam dunia, demikian juga Yesus mengutus para murid ke dalam dunia. Hal ini pun berlaku untuk proses pementoran. Untuk dapat mengutus, diperlukan rasa percaya. Masalah terbesar dalam pengutusan adalah ketidaksiapan dan ketidakpercayaan. Satu sisi para mentee tidak siap untuk terjun ke dalam dunia karena kurang dilatih, kurang dewasa, sangat tergantung dengan mentor. Kemungkinan kedua adalah karena para mentor tidak berani mempercayai mentee-nya berjalan sendiri dalam kehidupannya. Sama seperti orang tua yang selalu menganggap anaknya masih kecil. Mereka tidak mau memberikan tanggung jawab yang lebih besar karena merasa anaknya belum cukup dewasa untuk menanggungnya. Biasanya ini yang menjadi penghalang dalam proses pementoran. Mari belajar mempercayakan sebuah tanggung jawab yang lebih besar kepada mentee kita sambil mendampingi mereka dalam perjalanannya menjadi memimpin yang baru.

AKU TELAH MENGUDUSKAN DIRIKU BAGI MEREKA SUPAYA MEREKA JUGA DIKUDUSKAN DALAM KEBENARAN (Ayat 19)
Hal ini juga merupakan sebuah tantangan bagi seorang mentor. Menjaga diri kudus adalah sebuah hal yang mutlak dan ini merupakan integritas seorang pemimpin dan mentor. Kekudusan adalah hasil dari karakter bersih yang dibangun oleh seseorang dan dapat ditularkan melalui gaya hidup dalam pergaulan setiap hari. Allah adalah kudus, suci, bersih, tanpa noda dan tidak ada kotoran. Siapapun yang bergaul dekat dengan Allah pasti akan tertular gaya hidup bersih tersebut. Allah selalu bersih dalam pikiran, perkataan, dan tindakan. Demikian juga dengan kepemimpinan. Ketika pemimpin biasa hidup bersih, maka orang yang tinggal bersamanya pasti akan dipimpin kepada gaya hidup yang serupa. Sama halnya dengan orang tua di rumah. Sejak kecil, anak-anak hanya menirukan gaya hidup orang tuanya. Kebersihan hidup di rumah akan menjadi kebiasaan bersih dalam semua aspek kehidupannya. Ketika seorang pemimpin atau mentor menjaga kekudusan dirinya, ia tidak hanya melakukannya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk orang-orang yang mengikutinya juga sebagai sebuah teladan yang ditiru, disadari atau tidak disadari.

AKU TELAH MEMBERIKAN KEPADA MEREKA KEMULIAAN (Ayat 22)
Kemuliaan dalam Alkitab selalu berhubungan dengan kualitas atau bobot. Berasal dari kata Kaboth dan itu mengacu pada Kualitas Tuhan. Kita mengerti bahwa Tuhan adalah Allah yang berkualitas dan tidak ada yang dapat menandingi-Nya. Ada begitu banyak kualitas Allah yang diperlihatkan melalui Yesus, seperti perkataan-Nya, perbuatan-Nya, pekerjaan-Nya, sifat-Nya dan lain-lain. Seorang mentor harus membangun dirinya menjadi berkualitas sehingga kualitasnya tersebut dapat ditularkan juga kepada mentee-nya. Pada gilirannya, hubungan antara mentor dan mentee harus menghasilkan kehidupan yang lebih baik atau lebih berkualitas.

Pdt. Arif Multi Ardania, M.Div.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *