NILAI
Cinta Tuhan, Rendah Hati, Jujur dan Rajin
JABAR 3B
Bersatu - Berhasil - Berdampak

PEMENTORAN PRAKTIS BAGI PARA PEMIMPIN

Perbedaan antara Counseling, Coaching, dan Mentoring
Di era yang semakin maju seperti sekarang ini, para pemimpin dituntut untuk lebih mengembangkan kapasitasnya, sehingga mereka dapat juga menjalankan fungsi counseling, coaching, dan mentoring terhadap tim yang dipimpinnya. Inilah tiga kemampuan lain yang perlu dikuasai oleh seorang Leader.

Counseling.
Konseling berbicara tentang kemampuan pemimpin dalam menggali akar masalah, menelusuri masalah yang belum tuntas di masa lalu, kekecewaan yang belum selesai, mental yang terluka, dan seterusnya. Oleh karena ada hal-hal yang belum bereslah maka terjadi persoalan di masa sekarang. Barangkali kita menemukan seseorang yang entah mengapa begitu takut untuk mencoba, takut mengejar target. Setelah dikonseling, ternyata kita baru tahu bahwa ketakutan itu selalu muncul karena ia dulu sering ditolak, sehingga menimbulkan trauma yang mendalam. Atau kita berhadapan dengan seseorang yang senang sekali membuat keributan dengan siapapun. Dalam sesi konseling, kita baru mengerti, itu terjadi karena disebabkan masa lalu-nya yang kurang baik. Ia sering disakiti. Jadi sebelum ia menerima perlakuan buruk dari orang lain, maka ia berusaha menyakiti pihak lain lebih dulu. Atau barangkali kita mempunyai anggota tim kerja yang etos kerjanya payah, tidak bertanggung jawab, kata-katanya kasar dan orangnya malas. Setelah kita melakukan konseling lebih dalam, kita menjadi tahu penyebabnya, mungkin itu terjadi karena ia mempunyai orang tua atau ayah yang seperti itu. Jadi dia kehilangan figur yang layak untuk diteladani. Sikap dan perkataan sang ayah telah menular kepadanya dan terbawa sampai dewasa, sampai ia bekerja. Sebagai konselor, tugas kita adalah membuat
orang-orang yang kita pimpin menang atas masa lalu mereka. Ketika konflik masa lalu mereka selesai, maka mereka cenderung akan menunjukan performa yang lebih baik bagi tim kita.

Coaching.
Hampir semua olahragawan profesional memiliki pelatih (coach). Padahal jika misalnya dalam pertandingan Golf Profesional, mereka berdua disuruh bertanding (pemain profesional vs pelatih), jelas Tiger Woods-lah yang akan menang. Pertanyaannya, mengapa ia masih membutuhkan pelatih jika jelas-
jelas dia lebih hebat dari coach-nya? Tujuannya adalah untuk melihat hal-hal yang tidak dapat ia lihat sendiri; bagaimana ayunan stick golf-nya, apakah latihan yang dilakukan sudah sesuai, sudah maksimal, dan masih banyak lagi. Hal yang tidak dapat kita lihat dengan mata sendiri itulah yang disebut blind spot atau titik buta. Kita hanya bisa melihat blind spot tersebut dengan bantuan orang lain. Para pemimpin yang berfungsi sebagai coach mesti melihat apa yang masih kurang, yang belum maksimal yang dikerjaan oleh orang-orang yang dipimpinnya melalui proses coaching. Bahkan, mereka bertugas untuk memperbesar kapasitas orang-orang yang dipimpinnya. Mungkin selama ini, orang-orang yang kita pimpin menilai bahwa usaha mereka sudah klimaks, target yang ditetapkan sudah tinggi, jadi sasarannya tidak perlu dinaikkan lagi. Namun sebagai coach, kita harus membongkar zona nyaman tersebut. Dengan berbuat itu, kita sedang mengeluarkan potensi terbaik dari para “pemain” kita. Mereka yang tadinya kurang yakin, tidak percaya diri dan tidak mampu, akan berangsur-angsur menjadi lebih
produktif setelah melewati proses coaching.

Mentoring.
Mentor adalah seseorang yang pernah mencapai tingkat tertentu dalam bidangnya, sehingga dia bisa membagikan rahasia keberhasilan kepada banyak orang. Jika misalnya saat ini kita telah sampai pada posisi direktur di bidang pemasaran, maka tugas kita adalah membawa orang-orang yang kita pimpin sampai di titik dimana kita telah berdiri sekarang ini. Sebagai seorang pakar pemasaran, kita tentu tahu benar seluk beluk tentang dunia tersebut, apa hambatan terbesarnya, kendala apa yang akan dihadapi, bagaimana cara mengatasinya, buku-buku apa yang harus dibaca, strategi mana yang harus dijalankan, bahkan kita paham sekali apa keuntungan yang bisa didapat oleh seseorang yang sukses di bidang itu. Ya, kita bisa menjelaskan secara rinci karena kita sudah lebih dulu melewati jalan tersebut. Kita mempunyai banyak pengalaman yang belum diketahui banyak orang. Para pemimpin yang berfungsi sebagai mentor, perlu memastikan bahwa apa yang dikatakan, bahkan cara-cara yang dicontohkan kepada orang-orang yang dipimpinnya adalah Jelas! Orang melakukan apa yang dilihatnya, jadi ijinkan mereka menyaksikan apa yang ingin mereka pelajari dari kita. Berilah contoh yang akurat dalam keterampilan, perencanaan yang baik, penetapan visi yang tajam, dan seterusnya. Lalu, keterlibatan kita dalam memantau dan mendampingi mereka pun sangat penting. Ini memungkinkan kita tahu dengan pasti bahwa mereka sudah melakukan segalanya dengan tepat dan akan mengecap keberhasilan sebagaimana sudah kita alami sendiri.

Dalam Kepemimpinan, Pementoran adalah Faktor Utama Keberhasilan Pemimpin yang efektif tidak berfokus pada diri dan kesuksesan mereka sendiri. Mereka memikirkan orang lain. Bagi mereka, Kesuksesan adalah Mengembangkan Orang! Mengapa? Karena, apabila kita mencoba mengembangkan orang lain dengan memberikan contoh yang benar, sebenarnya kita telah mengembangkan dua orang yaitu, diri kita sendiri dan orang tersebut. Ilmu kita tidak akan berkurang, wawasan kita tidak menurun, malah berlipat kali ganda. Ya, hampir setiap gerakan kepemimpinan di dalam sejarah dapat bertahan karena kelompok pemimpin generasi awalnya memproduksi kepemimpinan disertai nilai-nilai hidup mereka ke dalam diri para pemimpin generasi selanjutnya. Hal tersebut kemudian menjadi sebuah gerakan karena sifatnya berlipat kali ganda dan bukan sekedar pertambahan saja. Selain itu, para pemimpin yang menghasilkan pemimpin-pemimpin lainnya akan mempengaruhi generasi yang akan datang. Hal itu sangat berbeda jika sebagai pemimpin, kita hanya menghasilkan para pengikut. Kita cuma akan mempengaruhi generasi sekarang saja.

YESUS, SANG MENTOR SEJATI!
Ketika harus memilih dan menunjuk murid-murid, Yesus melalui “kepemimpinan hamba”-Nya telah berhasil dengan menerapkan metode pementoran yang sangat praktis dan terbukti hasilnya. Setidaknya ada 4 (empat) langkah pementoran praktis yang Yesus teladankan kepada kita para pemimpin, sbb.:

1. I DO, YOU SEE. (AJARKAN)
Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. (Yoh 5:19) Dalam proses ini, Yesus sebagai mentor menyaksikan tentang diri-Nya dan menyampaikan pengajaran-Nya, sementara murid-murid yang dilatih-Nya memperhatikan apa yang diajarkan-Nya. Begitu pun dalam praktek kepemimpinan kita, pastikan bahwa orang yang kita latih menyaksikan dan memperhatikan keseluruhan proses yang kita ajarkan secara lengkap. Sayangnya banyak sekali pemimpin yang hanya menjelaskan setengah-setengah dan kurang jelas, sehingga seringkali membingungkan orang yang sedang mereka latih. Idealnya, apabila orang yang dilatih memperhatikan tugas yang diajarkan secara benar dan menyeluruh, maka hal itu akan menjadi suatu pedoman yang baik untuk ditiru dan dilaksanakan. Oleh karena itu, sediakanlah waktu yang memadai untuk menjelaskan segala sesuatu disertai alasan dijalankannya setiap langkah. Pada tahap ini harus terjadi banyak komunikasi.

2. I DO, YOU HELP. (LIBATKAN/SERTAKAN)
Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." (Mat. 4:19) Ayat ini menjelaskan bahwa Yesus sebagai mentor sangat memahami tujuan dari pelayanan misi-Nya sehingga Ia dengan percaya diri mengajak murid-murid- Nya untuk ikut terlibat bersama dalam pelayanan-Nya, yakni menjala jiwa-jiwa yang membutuhkan keselamatan.  Apabila pada tahap pertama mentorlah yang banyak berperan, maka pada bagian ini orang yang dilatih mulai mengambil bagiannya dan sebagai mentor kita harus siap membantunya. Sangatlah penting untuk bersikap positif dan membangkitkan semangat mereka pada taraf ini. Sikap demikian akan menolong mereka untuk tidak takut mencoba, dan untuk menyakinkan pada diri mereka bahwa mereka sebenarnya juga bisa mengerjakan apa yang kita kerjakan. Membiarkan orang-orang menolong pekerjaan kita juga akan membantu mereka menghayati dan mengingat proses demi proses.

3. YOU DO, I HELP. (WAKILKAN – BUTUH KEPERCAYAAN DAN KERELAAN)
“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.” (Yoh. 9:4-5) Dalam ayat ini, Yesus sebagai mentor mulai memberi sebutan “Kita harus …” untuk menunjukan semangat kebersamaan dari tim kerja-Nya. Ia mulai memberi kepercayaan (mewakilkan) kepada murid-murid- Nya untuk mengerjakan hal yang sama dengan apa yang Ia kerjakan selama ini. Pada tahapan ini, sebagai mentor, pemimpin mulai melepaskan diri dari tugasnya sambil memberi bantuan bila dibutuhkan. Sangat penting bagi seorang mentor untuk tinggal bersama orang-orang yang dilatih sampai mereka berhasil. Hal ini bukan saja menunjukkan bahwa kita tidak lepas tangan begitu saja, namun tindakan ini juga dapat memastikan bahwa mereka sudah melakukan segalanya dengan tepat. Berada di sisi mereka juga bisa berarti memotivasi mereka agar dapat meningkatkan prestasi dalam proses yang sedang berlangsung. Jadi, setelah Kita memberi instruksi, pantaulah pekerjaan mereka sambil memberi arahan, nasihat, saran, perbaikan, dan dorongan.

4. YOU DO, I SEE. (MENGUASAKAN)
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kis. 1:8) Perkataan Yesus dalam ayat ini menunjukan kesadaran Yesus akan rencana kenaikan-Nya ke surga. Situasi ini mengharuskan perpisahan dengan murid-murid- Nya. Namun sebagai Mentor Sejati, Yesus tidak meninggalkan mereka begitu saja, Ia memastikan murid-murid- Nya “menerima kuasa”-Nya untuk melanjutkan pelayanan misi yang harus diselesaikan sampai pada waktunya Tuhan. Jika proses pementoran berjalan dengan baik dan orang yang kita latih sudah mampu mengerjakan apa yang ditugaskan, maka seorang pemimpin dapat menyerahkan kuasa kepemimpinan-nya dan hanya melihat bagaimana mereka bekerja. Setelah melewati tahapan ini seorang pemimpin baru bisa dikatakan berhasil menjalankan fungsinya dengan baik, akan datang gilirannya bagi mereka (mentee) untuk mengajarkan kepada orang-orang lain sebagaimana kita sudah melakukannya. Dengan demikian, orang-orang itu ditarik naik ke level yang lebih tinggi. Sementara itu, sebagai mentor atau pemimpin, kita bergeser untuk melakukan hal-hal yang lebih tinggi lagi. Sebatang lilin tidak akan kehilangan apapun saat ia menyalakan lilin yang lain. Malah ia akan melipat-gandakan kecerahan terangnya. Begitulah cara kerja Pementoran. Para pemimpin menginvestasikan waktu, tenaga, materi, pemikiran ke dalam diri para pemimpin baru yang sedang bermunculan. Barangkali, awalnya hanya seperti pekerjaan yang menghabiskan banyak hal, sementara mereka tidak mendapatkan apa-apa. Mengembangkan orang lain memang menuntut banyak hal. Namun apabila kita bertekad untuk memperlengkapi banyak orang, pada akhirnya kita sendiri akan maju dengan kecepatan yang berlipat-lipat. Sebab dia yang membantu orang lain naik ke atas akan mendaki paling tinggi. Tuhan Yesus Memberkati!

“A Leader is one who knows the way, goes the way and shows the way.”

– JC Maxwell.

“Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.”
– Rasul Paulus.

Penulis: Pdt. Budiman Nataprawira, M.A.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *