NILAI
Cinta Tuhan, Rendah Hati, Jujur dan Rajin
JABAR 3B
Bersatu - Berhasil - Berdampak

MENTORING THE MILLENIAL FOR THE NEXT GENERATION

Ungkapan “You are mentoring the next generation whether you know it or not,” bukan saja benar dan valid namun juga menjadi sebuah kebutuhan yang urgensinya tidak lagi bisa dipandang remeh. Sebuah urgensi yang menuntut kita untuk dengan sengaja dan terencana melakukan penjangkauan dan pementoran kepada generasi yang akan datang, supaya kita tidak akan kehilangan mereka namun sebaliknya melihat mereka muncul dalam kapasitas kepemimpinan yang dibutuhkan bagi gereja yang akan datang. Sayangnya yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Kita tidak sadar bahwa kita sedang mementor generasi yang akan datang dengan apa yang kita lakukan dan katakan sehingga karena ketidaksadaran ini kita pun telah kehilangan generasi ini. Jikalau kita tidak ingin kehilangan the next generation, bukan saja kita harus menyadari peran kita namun juga memerankannya dengan baik seperti yang Paulus katakan kepada salah satu mentee-nya, Arkhippus ”And, oh, yes, tell Archippus, ‘Do your best in the job you received from the Master. Do your very best.’” (Kolose 4:17 – The Message)

A Call to be An Awaker and A Mentor Di setiap generasi, Allah selalu rindu bukan saja menemukan seorang awaker (yang membangkitkan generasi selanjutnya), namun juga seorang mentor yang menyentuh dan memberikan impact bagi generasi selanjutnya. Salah satu contoh adalah Musa yang dengan sengaja dan terencana menjadi awaker bagi anak muda Yosua agar dia makin menyadari panggilan khusus Tuhan atas hidupnya. Musa dengan sengaja dan terencana menjadi mentor bagi anak muda ini sehingga akhirnya Yosua pun menerima kepemimpinan dari Musa sebelum Musa meninggal. Sayangnya apa yang telah dilakukan oleh Musa sepertinya tidak dilakukan oleh Yosua sehingga setelah kepergiannya bangsa Israel seperti kehilangan arah karena ketiadaan seorang awaker dan mentor bagi generasi tersebut. Maka terjadilah seperti apa yang tertulis dalam kitab Hakim 2: 10-11, “…bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel. Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal.”Sayangnya kita pun seringkali gagal membaca dan belajar dari sejarah sehingga kita cenderung mengulanginya. Dan siklus inipun terulang kembali: kita kehilangan the next generation. Hal ini sepertinya sangat nyata di Amerika atau negara – negara Barat lainnya dimana jumlah anak-anak muda (dewasa muda) yang akhirnya meninggalkan gereja jumlahnya begitu mencengangkan! Berdasarkan survey yang dilakukan beberapa lembaga survey di Amerika dalam rentang waktu tahun 2000-an, jumlah anak-anak muda atau dewasa muda yang tidak lagi ke gereja atau akhirnya meninggalkan iman mereka berkisar 60-80% ! Sebuah angka yang seharusnya membuat kita benar-benar tidak bisa diam dan berpangku tangan saja karena gelombang inipun sudah terjadi di Asia bahkan mungkin saja (sudah terjadi atau) suatu saat akan terjadi juga di Indonesia juga. Dalam kondisi yang demikian kita mungkin bertanya, ”Apakah Allah berhenti sampai di sini? Tentu tidak! Apakah kerinduannya menemukan seorang awaker dan mentor bagi generasi ini dan selanjutnya terus berlanjut? Tentu! Sama seperti Dia membangkitkan para hakim zaman itu, Diapun ingin menemukan seorang yang memiliki hati bagi generasi ini dan generasi selanjutnya. Seorang yang telah Tuhan sentuh hatinya sehingga diapun bisa dipakai untuk menyentuh dan mempengaruhi generasi selanjutnya seperti yang tertulis dalam Yehezkiel 22:30: “Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya.” Allah mencari seorang awaker dan mentor bagi generasi yang akan datang.

A Generation Called Millennial
Istilah millennial tidaklah asing bagi kita hari-hari ini. Pertanyaannya, ”Siapa dan apakah mereka itu?” Generasi ini seringkali disebut atau labelled dengan berbagai nama diantaranya generasi Millennial, Generasi Y, Generasi WE, generasi Boomerang, atau generasi Peter Pan.” Mereka adalah generasi yang lahir setelah tahun 1980-an. Kalau dilihat dari kurun waktu pembagian ini, maka generasi ini saat ini bisa dikategorikan sebagai kaum muda atau dewasa muda yang populasimya tidaklah sedikit dan memiliki kontribusi yang tidak dapat dipandang sebelah mata bahkan oleh gereja juga. Bahkan pada akhir tahun 2014, Micah Solomon, seorang penulis majalah dunia, Forbes mengatakan bahwa kekuatan dan populasi generasi ini sangat besar dan penting. Dia menulis: “Para pelanggan dari generasi millenial –80 juta di Amerika saja– akan segera menjadi pelanggan paling penting yang akan pernah ada dalam
bisnismu. Walaupun istilah clichés atau stereotype yang terlalu sering kita lihat di media tentang generasi ini (pemakan ramen, tidak memiliki banyak uang, pekerjaan dengan hasil yang tidak banyak dan selanjutnya), generasi millenial bukan saja generasi dengan populasi terbesar di Amerika dan sejarah dunia, namun mereka juga akan menjadi generasi yang punya daya beli yang sangat besar juga. Diperkirakan di Amerika saja, mereka akan menghabiskan USD$200 M per tahun pada akhir 2017 dan USD$10 sepanjang hidup mereka sebagai pelanggan.” Wow! Sebuah generasi dengan kekuatan dan potensi yang sangat besar! Di Jawa Barat sendiri populasi generasi millennial diperkirakan mencapai lebih dari 30% atau sekitar 14 juta jiwa! Sebuah angka yang sangat fantastis! Sebuah angka yang seharusnya membuat gereja-gereja perlu memikirkan lebih serius lagi bagaimana menjangkau serta mementor generasi ini dan tidak mengabaikannya. Namun demikian untuk menjangkau dan mementor generasi ini juga tidak semudah yang kita bayangkan karena karakteristik dari generasi ini yang berbeda – walaupun kadangkala karakteristik ini adalah generalisasi dan tidak seratus persen benar – dengan
generasi sebelumnya yaitu generasi baby boomers yang seringkali, untuk berkomunikasi dengan generasi ini adalah sebuah tantangan tersendiri.

A Great Generation with Great Needs

Berdasarkan riset, ”Millennials: A Portrait of Generation Next,” yang dirilis oleh Pew Research Center pada tahun 2010 serta Boston Consulting Group (BCG) bersama University of Berkley tahun 2011 dengan mengambil tema American Millennials: Deciphering the Enigma Generation ada beberapa karakteristik generasi millenial tersebut:

– Millennial lebih percaya User Generated Content (UGC) daripada informasi searah.
– Millennial lebih memilih ponsel dibanding TV.
– Millennial wajib punya media sosial.
– Millennial kurang suka membaca secara konvensional.
– Millennial lebih tahu teknologi dibanding orang tua mereka.
– Millennial cenderung tidak loyal namun bekerja efektif.
– Millennial mulai banyak melakukan transaksi secara cashless.

Walaupun generasi millennial sepertinya lebih advance dalam hal teknologi dibanding generasi sebelumnya, namun, generasi ini pun memiliki kebutuhan yang besar yang berharap gereja bisa menjadi tempat dimana mereka bisa menyebutnya ‘a home’ dimana mereka bisa mengekspresikan kasih mereka kepada Tuhan dan sesama melalui karunia dan talenta yang ada pada mereka. Barna group melalui survey yang mereka lakukan, ”5 Reasons Millennials Stay Connected to Church – 5 Alasan mengapa generasi Millenial tetap terhubung dengan Gereja,” menawarkan 5 cara agar gereja dan pemimpin gereja bisa memiliki komunikasi yang dalam dan bahkan hubungan yang panjang dengan generasi millennial, yaitu:

1. Memberikan ruang dimana generasi millennial memiliki hubungan yang berarti dengan orang-orang dewasa dalam gereja sebab 7 dari 10 millenial yang meninggalkan gereja disebabkan oleh tidak adanya hubungan yang berarti dengan orang-orang dewasa dalam gereja.

2. Melatih generasi millennial agar memiliki ketajaman budaya. Dengan perkembangan teknologi yang begitu luar biasa, kita tidak bisa overprotective terhadap mereka. Sebaliknya kita perlu mengedukasi mereka agar mereka bisa belajar mengaplikasikan iman, hati, dan pikiran mereka pada realita budaya hari ini melalui teknologi yang ada.

3. Melakukan reverse mentoring sebagai sebuah prioritas supaya mereka akhirnya dapat menemukan isi mereka sendiri di dunia ini dan bukan pementoran yang targetnya hanya sekedar ingin menjadikan pemimpin masa depan saja dengan posisi yang sudah dipersiapkan. Mereka harus dilatih untuk akhirnya menemukan alasan dan misi mereka melalui gerejanya.

4. Menyambut dan menerima potensi dari vocational discipleship dengan membagikan kepada mereka tentang panggilan Allah dalam mereka melalui passion dan karunia mereka sebagai satu cara untuk membantu mereka terhubung dengan sejarah kekristenan yang begitu kaya dengan pengalaman pribadi mereka yang unik bersama dengan Allah yang memanggil mereka.

5. Memfasilitasi sebuah hubungan yang intim dengan Yesus. Generasi millennial yang tetap aktif di gereja (68 % banding 25%) mengatakan bahwa mereka percaya Yesus berbicara kepada mereka secara  pribadi dengan cara yang nyata dan relevan.

A Great Challenge to take

Melihat gelombang exodus generasi millennial dari gereja yang sudah melanda gereja-gereja di Barat bahkan di sebagian negara Asia seharusnya membuat kita sadar dan bangun serta meresponi panggilan-Nya untuk kita pun menjadi awaker dan mentor bagi generasi ini. Melihat potensi yang dimiliki oleh generasi millennial ini seharusnya membuat kita semua memikirkan bagaimana kita bisa membuka keran potensi generasi ini untuk generasi yang akan datang. Ini adalah sebuah tantangan! Melihat kebutuhan yang mereka cari dari gereja, ini pun adalah sebuah tantangan! Tantangan untuk kita menjadi gereja, pemimpin yang relevan tanpa harus mengkompromikan nilai-nilai kebenaran Firman yang berkuasa! Pertanyaannya: Apakah kita mau? Apakah kita siap? Kiranya Roh Kudus menolong kita semua untuk menjadi Awaker dan Mentor bagi generasi ini demi generasi yang akan datang! Tuhan Yesus memberkati!

Oleh: Pdt. Yoel Sukardi, M.Div.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *