NILAI
Cinta Tuhan, Rendah Hati, Jujur dan Rajin
JABAR 3B
Bersatu - Berhasil - Berdampak

INDAHNYA KERJA BARENG

 

KERJA BARENG adalah lebih baik daripada kerja sendiri-sendiri.

“Aku melihat lagi kesia-siaan di bawah matahari: ada seorang sendirian, ia tidak mempunyai anak laki-laki atau saudara laki-laki, dan tidak henti-hentinya ia berlelah-lelah, matanya pun tidak puas dengan kekayaan; — untuk siapa aku berlelah-lelah dan menolak kesenangan? — Ini p☺un kesia-siaan dan hal yang menyusahkan. Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas? Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan” (Pengkhotbah 4:7-12). Manusia modern cenderung menjadi semakin individualistik. Sebagian orang asyik hidup di dalam dunia mereka sendiri. Nilai kebersamaan pun menjadi luntur. Kita patut bersyukur hal semacam ini tidak terjadi di antara kita hamba-hamba Tuhan GSJA Jawa Barat. Karena kita sama-sama di dorong untuk KERJA BARENG, yang terlihat dalam motto bersama, yaitu JABAR 3B : Bersatu, Berhasil, Berdampak. Memang, kerja bareng bukanlah tujuan akhir, tetapi sarana kita, untuk kita mencapai tujuan akhir. Alasan kita kerja bareng adalah

Pertama, bahwa kita harus ingat, kita tidak mendapatkan semua, tetapi diberi berdasarkan ukuran tertentu yang Tuhan tetapkan. Paulus menjelaskan hal ini dengan baik dalam Efesus 4:7Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. Oleh sebab itu, kita perlu kerja bareng.

Kedua, Tuhan tidak mengaruniakan kepada kita secara lengkap atau utuh atau sempurna. Itulah sebabnya, kita membutuhkan orang lain, kita membutuhkan gereja lain, kita membutuhkan hamba-hamba Tuhan yang lain, untuk kerja bareng. Mengapa? Mungkin, apa yang kita butuhkan dikaruniakan Tuhan kepada hamba-hamba Tuhan yang lain atau kepada GSJA yang lain di Jawa Barat.  Kita butuh tangan hamba-hamba Tuhan lain, kita butuh pundak hamba-hamba Tuhan yang lain, kita butuh doa hamba-hamba Tuhan yang lain. Kita butuh pemikiran-pemikiran hamba-hamba Tuhan yang lain.

Ketiga, adalah Tuhan tidak pernah menciptakan manusia sebagai mahluk-mahluk individualis. Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk sosial yang harus saling terhubung dan terintegrasi agar dapat terus berjalan ke arah yang lebih baik. Pengkhotbah bahkan mencatatnya sebagai kehidupan yang sia-sia (Pengkhotbah 4:7-8). Bahkan Allah sendiri menyatakannya bahwa “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja…” (Kejadian 2:18). Itu artinya, manusia memang diciptakan sebagai mahluk sosial yang saling terkait dengan sesamanya. Kita adalah bagian integral dari masyarakat majemuk.  Lingkungan pelayanan yang sulit, persoalan pelayanan yang kompleks dan sebagainya, di saat itulah kita membutuhkan teman-teman hamba-hamba Tuhan yang sanggup menguatkan, meneguhkan, mengingatkan, bahkan menolong, dan mendoakan kita.

Ada waktu kita butuh dikuatkan, sebaliknya ada saat ketika kita bisa menguatkan. Tidak ada manusia yang sempurna, 100% kuat dan sanggup mengatasi segalanya sendirian. Tidak ada satupun orang yang sanggup bertumbuh sendirian. Inilah yang diingatkan oleh Paulus. “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” (Ibrani 10:24). Berkali-kali Alkitab mengisyaratkan agar kita bekerjasama satu sama lain untuk mencapai satu tujuan. Lihatlah sebuah contoh ketika ada orang lumpuh yang ingin menjumpai Tuhan Yesus di Kapernaum seperti yang tertulis dalam Lukas 2:1-12. Begitu banyak orang mengerumuni Tuhan Yesus, sehingga tidak mungkin si lumpuh bisa menerobos kerumunan. Tapi akhirnya dia mampu bertemu Tuhan Yesus dan disembuhkan. Bagaimana ia melakukan itu? Lihatlah bahwa ada empat orang temannya menggotongnya ke atas atap dan menurunkan dirinya yang terbaring di atas tilam dari atas atap. Bayangkan jika seandainya si lumpuh tidak punya teman. Dia tidak akan sempat bertemu muka dengan Tuhan Yesus dan mendapat mukjizat kesembuhan. Ada banyak lagi kisah-kisah di mana kita melihat pentingnya kerja bareng di antara kita. Ketika Tuhan Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk mewartakan kabar baik pun kita melihat mereka diutus bukan untuk berjalan sendirian, tapi berdua-dua (Markus 6:7).

 

Mari kita kembali melihat dari kitab Pengkhotbah 4:7-12.  Teks ini mungkin merupakan salah satu teks favorit kita dalam khotbah pemberkatan pernikahan. Konsep “berdua lebih baik daripada sendirian” sekilas memang mengarah pada pernikahan. Walaupun demikian, teks ini lebih berbicara tentang komunitas daripada pernikahan. Ada beberapa alasan yang mendukung gagasan ini. Orang yang sendirian di ayat 7-8 disebutkan tidak memiliki saudara dan anak laki-laki, bukan tidak memiliki suami atau isteri. Konteks berduaan di ayat 9-12a pun lebih mengarah pada konteks perjalanan bisnis, bukan pernikahan. Pemunculan angka 3 di ayat 12b (“Tali tiga lembar tidak mudah diputuskan”) jelas janggal untuk konteks pernikahan. Berdasarkan pemunculan angka yang beragam di teks ini, kita dengan mudah menangkap alur berpikir pengkhotbah. Di ayat 7-8 ia membicarakan tentang kesendirian adalah kesia-siaan. Di ayat 9-12a ia membahas tentang keuntungan memiliki seorang rekan. Ayat 12b merupakan klimaks yang mengajarkan bahwa kalau dua lebih baik daripada satu, apalagi tiga.

 

BERDUA adalah lebih baik daripada sendirian (ayat 9-12a)

Inti dari Pengkhotbah 4 adalah ayat 9-12a khususnya terletak pada ayat 9 “berdua lebih baik daripada sendirian”. Ayat 10-12a hanyalah contoh atau ilustrasi dari dunia perdagangan yang menjelaskan poin di ayat 9. Ayat ini mengingatkan kita pada penilaian Tuhan terhadap kesendirian Adam: “Tidak baik manusia itu seorang diri saja, Aku akan memberikan seorang yang sepadan dengan dia.  (Kej 2:18).

Di ayat 9b Pengkhotbah menjelaskan alasan mengapa berdua lebih baik daripada seorang diri: “karena mereka akan menerima upah yang baik dalam jerih-payah mereka”. Yang menarik dari alasan ini adalah ungkapan “upah yang baik”. Pengkhotbah tidak membahas tentang upah yang (lebih) banyak. Ini bukan masalah jumlah materi atau harta yang bisa didapat dengan mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Ada hal lain yang sedang dimaksud pengkhotbah dengan “upah yang baik”. Berdasarkan kontras dengan ayat 7-8 dan contoh-contoh di ayat 10-12a, upah yang baik tampaknya merujuk pada kontribusi yang diberikan untuk orang lain. Ini tentang membagikan hidup bagi orang. Dengan kata lain, ayat ini berbicara tentang hidup yang berarti bagi orang lain. Tidak seperti orang kaya yang kesepian di ayat 7-8 yang hanya mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri, orang yang berdua di ayat 9 saling berbagi hidup dalam suka dan duka. Kita bersama-sama di GSJA Jawa Barat bersepakat, bahwa konsep seperti ini tidak ada di antara kita hamba-hamba Tuhan atau di antara gereja lokal kita masing-masing, yang menganggap upah yang baik selalu identik dengan upah harta yang banyak. Karena tujuan dari hidup kita bukanlah untuk mengumpulkan harta, tetapi tujuan dari panggilan kita adalah menginspirasi banyak orang, membagikan hidup kepada orang lain, menolong orang lain menemukan arti hidupnya di dalam Yesus Kristus.

Pengkhotbah selanjutnya memberikan beberapa contoh konkrit tentang upah yang baik (ayat 10-12a). Yang pertama adalah memberikan pertolongan (ayat 10). Perjalanan bisnis pada jaman dahulu seringkali memakan waktu yang sangat lama dan melewati perjalanan yang kurang aman. Daerah pegunungan selalu menjadi rute tidak terelakkan sekaligus mengundang banyak bahaya. Salah satunya adalah jurang dan lubang yang dalam. Ketika seseorang bepergian seorang diri dan jatuh pada jurang atau lubang, maka sangat sulit bagi orang itu untuk mendapatkan pertolongan dalam waktu yang cepat. Dengan memiliki teman perjalanan, yang seorang akan membantu orang lain yang sedang jatuh. Itulah upah yang baik: menjadi penolong bagi orang lain! Yang kedua adalah memberi kehangatan (ayat 11). Gambaran di ayat 11 sekilas terlihat aneh bagi orang modern. Tidak jarang sebagian orang menafsirkan dua orang di ayat ini sebagai suami-isteri. Bagaimanapun, tafsiran seperti ini kurang cocok dengan konteks yang ada. Tafsiran ini lebih ditentukan oleh pemahaman kita tentang kultur modern daripada konteks perdagangan kuno. Para pedagang waktu itu tidak jarang harus bermalam di tengah gurun atau hutan dengan udara yang sangat dingin. Sangat wajar apabila mereka mengatasi problem ini dengan cara tidur bersama dalam tenda yang sama supaya menjadi hangat. Itulah upah yang baik. Yang ketiga adalah memberikan perlindungan (ayat 12a). Bahaya lain yang sering dihadapi oleh orang yang bepergian pada jaman dulu datang dari para penyamun. Pedagang yang bepergian sendirian akan menjadi mangsa yang empuk bagi para perampok. Dengan bepergian bersama, paling tidak mereka akan lebih sulit untuk dikalahkan para penyamun tersebut. Mereka bisa saling melindungi satu sama lain. Itulah upah yang baik: memberi perlindungan bagi orang lain!

BERTIGA adalah lebih baik daripada berdua (ayat 12b)

Pengkhotbah menutup pembahasan di ayat 7-12 dengan cara yang sedikit mengagetkan. Walaupun ia memfokuskan pembahasan pada “berdua” (ayat 9-12a), namun ia mengakhiri perenungannya dengan angka “tiga” (ayat 12b). Dua alasan berikut ini memberikan dukungan bahwa pengkhotbah sedang memaksudkan ayat 12b sebagai sebuah klimaks (penekanan). Pengkhotbah ingin menekankan bahwa kalau berdua saja sudah lebih baik daripada sendirian, apalagi jika bertiga. Di samping itu, perubahan angka dari “satu” (ayat 7-8) ke“dua” (ayat 9-12a) lalu ke“tiga” (ayat 12b) secara jelas mengarah pada ide tentang peningkatan.

 

PENUTUP

Sebagai penutup dari artikel ini, saya ingin mengingatkan kembali bahwa sejak awal Allah sudah menetapkan manusia sebagai makhluk sosial. Sejak semula kesendirian bukanlah ide yang baik. Manusia diciptakan untuk saling mengasihi, menolong, memperhatikan, dan menjaga satu dengan lain. Kebersamaan semacam ini seharusnya lebih kuat dan esensial dalam relasi kita di antara hamba-hamba Tuhan di GSJA Jawa Barat, karena yang mempersatukan kita selain dari panggilan kita dan kasih Kristus itu sendiri, tetapi juga karena perintah firman Tuhan. “…Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua” (Efesus 4:2-6). Kita harus mengasihi orang lain seperti Kristus sudah mengasihi kita (Yoh 13:34; 15:12; 1 Yoh 4:7-12). Jika kebersamaan secara umum saja sudah sangat indah, apalagi kebersamaan di dalam sesama hamba Tuhan! Pertanyaannya: Apakah kita mau meninggalkan “daerah kenyamanan” (comfort zone) kita dan mulai belajar mengenal orang lain yang Allah tempatkan di sekitar kita? Maukah kita membuang sikap individualistik ala dunia dan mulai belajar berbagi hidup dengan sesama?

Salam JABAR 3B : Bersatu, Berhasil, Berdampak.

Pdt. Kennedi Sihotang, M.Th.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *